Kekuatan Pasukan Belanda
Selama Agresi Belanda II di Yogyakarta
Pasukan
khusus
Pisau Komando artinya kesiapan, latar belakang setengah malam dan setengah siang. Jadi artinya Kesiapan baik di malam hari maupun di siang hari.
Serah terima jabatan Kapten Westerling di Batujajar pada tanggal 16 November 1948
dimana Kapten Westerling digantikan oleh Letnan Kolonel KNIL W.C.A. van Beek
Penerjunan pasukan Para Belanda di Maguwo Yogyakarta
Nampak Letnan Antonietti Komandan 1e Para Cie di Maguwo


Sebagian pasukan Para Belanda yang telah berhasil merebut Maguwo,
jam 07.00 pagi, 19 Desember 1948.
Lapangan Udara Magoewo 19 Desember 1948. Membawa M 1 Carabin Kol.Van Langen, latar depan kiri Kap.JW Westerhoff, kanan bawah Kap.WDH Eekhout
Pasukan Belanda masuk kota Yogyakarta setelah menduduki lapangan terbang Maguwo
tanggal 19 Desember 1948
Nampak komandan KST yaitu Letnan Kolonel KNIL W.C.A. van Beek bersama Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta.
1e Para Cie dan 2e Para Cie di Lapangan Udara Gading 10 Maret 1949
dengan target utama menangkap Panglima Besar Jendral Sudirman
Nampak ada salah seorang pasukan yang menaiki Cushman Model 53
KST dan 1e
Para Cie
DST dan 1e
Para Cie yang tergabung alam pasukan tempur dengan kode "M" berkekuatan sekitar 600 personil dengan menggunakan pesawat C 47 dikawal P 51 Mustang dari lapangan
udara Andir Bandung melakukan penerjunan ke lapangan udara Maguwo di Yogyakarta
untuk menguasai kota Yogyakarta dan menangkap petinggi RI dengan target utama
Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta dan Panglima Besar Jendral Sudirman.
Pada tanggal 10 Maret 1949 1e Para Cie di bawah pimpinan Letnan Antonietti menuju ke Playen melakukan pembersihan dengan kerugian pi pihak Republik Indonesia 13 orang gugur. dan pada pukul 11 mereka mencapai Karangmojo.
Pada tanggal 10 Maret 1949 1e Para Cie di bawah pimpinan Letnan Antonietti menuju ke Playen melakukan pembersihan dengan kerugian pi pihak Republik Indonesia 13 orang gugur. dan pada pukul 11 mereka mencapai Karangmojo.
2e para Cie
Tanggal 10
Maret 1949 Kompi 2 (2e Para Compagnie), melakukan penerjunan di lapangan
terbang kecil Gading di tenggara luar kota Yogyakarta. Tujuannya untuk merebut
stasiun pemancar radio perjuangan, milik Republik di sekitar Wonosari. Selain itu juga untuk menangkap Panglima Jendral Sudirman dan beberapa menteri Indonesia.
Untuk menguasai Lapangan Udara Gading ini paling tidak ada 4 pasukan Para Belanda yang terluka.
1e Para Cie bergerak ke Playen dipimpin oleh Letnan Antonietti melakukan pembersihan dan menyebabkan kerugian di pihak Republik 13 orang gugur. Lalu bergerak ke Karangmojo dan tiba di Karangmojo pada pukul 11.00.
Sedangkan 2e Para Cie bergerak ke Wonosari dibawah pimpinan Letnan Mey. Dan mereka berhasil menduduki Wonosari.
Tujuan mereka sebenarnya untuk menangkap Panglima Besar Jendral Sudirman dab nenerapa oang menteri dari pihak Republik.
Mereka hanya menemukan pemancar radio yang telah berhasil menyiarkan keberhasilan serangan umum 1 Maret 1949 yang dilakukan oleh TNI.
Bahaya yang mereka hadapi malah muncul dari wabah frambusia dan kudis yang bisa mengganggu kesehaan pasukan ini dan yang malah sibuk adalah seorang dokter korps Verhagen.
Dan dari interogasi terhadap penduduk terungkap bahwa pada tanggal 21 Februari dan 3 Maret 1949 Angkatan Udara Belanda telah melakukan pemboman di wilayah ini akan tetapi Kapten Eekhout tidak pernah memberitahukan hal ini kepada pasukan 1e Para Cie dan 2e Para Cie ini.
Jadi karena hal ini tentu saja TNI telah waspada dan melakukan pengosongan wilayah ini. Setelah 10 hari melakukan operasi di wilayah sekitar Playen, karangmojo dan Wonosari tanpa hasil yang berarti pasukan ini ditarik ke Bandung.
Untuk menguasai Lapangan Udara Gading ini paling tidak ada 4 pasukan Para Belanda yang terluka.
1e Para Cie bergerak ke Playen dipimpin oleh Letnan Antonietti melakukan pembersihan dan menyebabkan kerugian di pihak Republik 13 orang gugur. Lalu bergerak ke Karangmojo dan tiba di Karangmojo pada pukul 11.00.
Sedangkan 2e Para Cie bergerak ke Wonosari dibawah pimpinan Letnan Mey. Dan mereka berhasil menduduki Wonosari.
Tujuan mereka sebenarnya untuk menangkap Panglima Besar Jendral Sudirman dab nenerapa oang menteri dari pihak Republik.
Mereka hanya menemukan pemancar radio yang telah berhasil menyiarkan keberhasilan serangan umum 1 Maret 1949 yang dilakukan oleh TNI.
Bahaya yang mereka hadapi malah muncul dari wabah frambusia dan kudis yang bisa mengganggu kesehaan pasukan ini dan yang malah sibuk adalah seorang dokter korps Verhagen.
Dan dari interogasi terhadap penduduk terungkap bahwa pada tanggal 21 Februari dan 3 Maret 1949 Angkatan Udara Belanda telah melakukan pemboman di wilayah ini akan tetapi Kapten Eekhout tidak pernah memberitahukan hal ini kepada pasukan 1e Para Cie dan 2e Para Cie ini.
Jadi karena hal ini tentu saja TNI telah waspada dan melakukan pengosongan wilayah ini. Setelah 10 hari melakukan operasi di wilayah sekitar Playen, karangmojo dan Wonosari tanpa hasil yang berarti pasukan ini ditarik ke Bandung.
Regiment Stoottroepen
(Raider kalau di TNI-AD saat ini) adalah resimen infanteri ringan penyerbu
dalam KL.
5-RS (De
vliegende stoters)
Logo 5 RS saat melakukan Operation Kraii ke Yogyakarta, 19 Desember 1948
Dokumentasi saat Pasukan 5 RS melakukan Operation Kraii 19 Desember 1948 ke Yogyakarta
Pasukan 5 RS dengan truk Chevrolet CMP
Nampak pasukan dari 5 RS sedang beristirahat
untuk minum dalam suatu operasi patroli rutin
Batalion
5-RS ikut mengambil bagian dalam pengambil-alihan Yogyakarta dan menangkap
pemimpin-pemimpin Republik. Batalion 5-RS dipindahkan melalui lintas udara dari
Kalibanteng, Semarang ke lapangan udara Magoewo, Yogyakarta. Ini merupakan unit
batalion Belanda yang dipindahkan dengan cara lintas udara. Setelah
mengambil-alih kota, batalion ditugaskan untuk mengamankan kota Yogyakarta.
Setelah Aksi
Polisi II, waktu mereka dipergunakan untuk patroli dan pengamanan disekitar
daerah Yogyakarta. Pada tanggal. 1 Maret 1949 TNI menyerang Yogyakarta. Sebuah
penyerangan yang berakhir dalam waktu 6 jam setelah pertempuran hebat. Pada
tanggal. 10 Maret 1949 batalion 5 RS berpartisipasi dalam aksi disekitar
Wonosari bersama dengan Korps Tropen Spesial, Resimen Infantri 5-5 dan Resimen
Infantri 5-6. Setelahnya batalion 5 RS mengambil-alih posisi-posisi disekitar
Kaliurang, Cebongan dan Prambanan dari Resimen Infantri 5-5.
Pada tgl. 29
Juni 1949 Yogyakarta dikembalikan kepada Republik Indonesia, setelah mendapat
tekanan dari Amerika.
Batalyon 5
RS merupakan unit terakhir yang meninggalkan Yogyakarta dan pindah ke
Purworejo.
GRGr adalah resimen
garda infanteri yang difungsikan sebagai pasukan infanteri biasa. Grenadier
biasanya dipilih dari prajurit-prajurit yang memiliki fisik kuat dan ditugaskan
mengawali serangan dalam sebuah pertempuran.
5 GRgr (Garde Regiment Grenadiers)
Pada tanggal 1 Maret
1949 4 cie ditambahkan ke Batalyon milik T - Brigade 5-5 RI dan ditempatkan di dalam dan sekitar
Yogyakarta.
Pada tanggal 14 Juni 1949 Ost.cie juga berkedudukan di Kota Gedeh dan Kedaton
Plered.
Regiment Infanterie
atau RI adalah satuan-satuan infanteri yang disusun oleh para wajib militer dan
sukarelawan (orang Belanda).


Belati bersayap melambangkan penaklukan Yogyakarta dari udara
1-15 RI pada dasarnya unit Lintas Udara pertama dalam sejarah angkatan bersenjata Belanda . Selama Aksi Polisi II ( Operasi Gagak ) , batalion 1-15 RI menggunakan pesawat DC - 2 diangkut ke bandara Maguwo Yogyakarta. Lambang 'belati bersayap' kini digunakan sebagai lambang 11 Airmobile Brigade.


Overste Scheers
Pada tanggal 22 Desember 1948, tampak pasukan dari
kompi 2 Batalyon I-15 RI di Stasiun Tugu Yogyakarta.
Beberapa anggota 1-15 RI di depan Bren Carrier
Sesudah
pasukan terjun payung dari Korps Spesial Troepen telah menguasai lapangan udara
di Magoewo, Batalion 1-15 RI diterbangkan untuk menguasai Yogyakarta dari arah
utara. Mereka membersihkan area tersebut dalam beberapa hari dan pada tanggal
22 Desember 1948 mereka mengambil-alih keamanan Kaliurang dari pihak pasukan
Republik.
Dari sini
mereka berpatroli di sepanjang jalan menuju ke Yogyakarta untuk mengamankannya.
Pada tanggal 27 Desember 1948 sebagian batalion 1-15 RI dipindahkan untuk
mengamankan jembatan di Sentolo. Pada tanggal 3 Januari 1949 aksi dilakukan di
daerah utara Yogyakarta. Disini 4 orang tentara hilang, baru 2 tahun kemudian
diketahui mereka telah dibunuh oleh TNI. Situasi ini membuat patroli di
sepanjang area utara menjadi tugas yang berat bagi tentara di battalion 1-15
RI.
Pada tanggal
18 Januari 1949 dilakukan operasi “Zuid”. Tujuan operasi ini untuk membersihkan
daerah selatan Yogyakarta. Pada tgl. 1 Maret 1949 TNI melakukan serangan umum
yang besar di Yogyakarta. Ini timbul sesudah adanya beberapa perlawanan yang
berat. Sesudahnya aksi di sekeliling Yogyakarta berkelanjutan seperti biasa.
Dalam periode ini batalion 1-15 RI berpusat di Barat Laut Yogyakarta,
mengambil posisi di Sentolo, Bantul, Gamping, Padokan dan Pedes.
Pada akhir
Mei 1949 batalion 1-15 RI digantikan oleh Batalion Infantri 426 dan kembali ke
Semarang.
Keterlibatan pasukan 1-15 RI telah tertulis di buku :
Reijgwart, A.W., 2003, "1-15 R.I. De Blijvertjes onbewust voorloper van de Mobiele Luchtbrigade"
J. F. Scheers, 1949, "Djokjakarta"
Keterlibatan pasukan 1-15 RI telah tertulis di buku :
Reijgwart, A.W., 2003, "1-15 R.I. De Blijvertjes onbewust voorloper van de Mobiele Luchtbrigade"
J. F. Scheers, 1949, "Djokjakarta"
Batalyon terdiri dari para wajib militer dari Twente dan Gelderland. Pasukan ini menggunakan lambang Kuda Jingkrak dari bendera Saxony dengan latar belakang perisai Saxon sebagai lambang yang dipasang di lengan mereka.
Mulai ke Yogyakarta tanggal 18 Desember 1948 yang didahului oleh para perintis. Lalu batalyon ini sampai ke Yogyakarta secara keseluruhan pada tanggal 21 Desember 1948. Tanggal 22 Desember 1848 mereka meninggalkan Yogyakarta menuju ke Magelang. Dan sehubungan dengan operasi “Zuid” Resimen Infantri 5-5 dipindahkan ke Yogyakarta lagi pada tanggal 12 dan 13 Januari 1949. Aksi ini dimulai tanggal 18 Januari 1948 untuk membersihkan daerah Selatan Jogjakarta. Setelah aksi ini Resimen Infantri 5-5 mengambil posisi-posisi di Sentolo, Barongan, Bantoel dan Karangsemut dan daerah-daerah tersebut dapat dibersihkan dalam waktu 3 minggu. Pada tanggal 6 Maret 1948 pasukan pendukung dari Resimen Stoottroepen 5 dipindahkan ke Resimen Infantri 5-5 dan berpusat di Kota Gedeh. Setelahnya pasukan dipisahkan dan anggota-anggotanya disebarkan ke sisa Resimen Infantri 5-5. Pada tanggal. 16 Maret posisi-posisi di Sentolo, Barongan dan Bantul dialihkan kepada Resimen Stoottroepen 5.
Mulai ke Yogyakarta tanggal 18 Desember 1948 yang didahului oleh para perintis. Lalu batalyon ini sampai ke Yogyakarta secara keseluruhan pada tanggal 21 Desember 1948. Tanggal 22 Desember 1848 mereka meninggalkan Yogyakarta menuju ke Magelang. Dan sehubungan dengan operasi “Zuid” Resimen Infantri 5-5 dipindahkan ke Yogyakarta lagi pada tanggal 12 dan 13 Januari 1949. Aksi ini dimulai tanggal 18 Januari 1948 untuk membersihkan daerah Selatan Jogjakarta. Setelah aksi ini Resimen Infantri 5-5 mengambil posisi-posisi di Sentolo, Barongan, Bantoel dan Karangsemut dan daerah-daerah tersebut dapat dibersihkan dalam waktu 3 minggu. Pada tanggal 6 Maret 1948 pasukan pendukung dari Resimen Stoottroepen 5 dipindahkan ke Resimen Infantri 5-5 dan berpusat di Kota Gedeh. Setelahnya pasukan dipisahkan dan anggota-anggotanya disebarkan ke sisa Resimen Infantri 5-5. Pada tanggal. 16 Maret posisi-posisi di Sentolo, Barongan dan Bantul dialihkan kepada Resimen Stoottroepen 5.
Pada tangga.
18 Maret 1949 Resimen Infantri 5-5 berpusat di Yogyakarta, dimana mereka
tinggal sampai pengosongan kota Yogyakarta pada tanggal. 29 Juni 1949.
Batalyon 426
(6-4 RI)
Batalyon 426 memilih logo dengan Burung Merak atau Garuda berkepala dua sebagai simbol ari Sultan Yogyakarta. Bintang melambangkan komet batalyon. Ekor melambangkan payung pelindung di atas kota.
Pada tanggal
19 April 1949 Batalyon 426 dialihkan ke tiga kompi yang ada di Yogyakarta dan
ditugaskan untuk 1-15 RI , RI 5-5 dan 5 - RS untuk selanjutnya dilatih dalam
patroli dan tugas jaga.
Dua hari kemudian sisa batalion 426 yang antara lain ditempatkan di Sentolo , Kaliurang , Wonosari dan Bantul.
Dari tanggal 23 Mei 1949 batalyon 426 menggantikan pasukan dari 1-15 RI dengan pos-pos di Bantul , Sentolo , Gamping , Padokan dan Jogjakarta .
Pada tanggal 4 Juni 1949 2 kompi dari 5 RS ditambahkan ke batalyon 426 ditempatkan di Moentilan dan Salam . Pada tanggal 26 Juni 1949, Bantul dan Sentolo sebagai bagian dari pengosongan kota Yogyakarta di bawah tekanan dari PBB. Hari berikutnya juga dikosongkan pos ke Padokan dan Gamping. Pada tanggal 29 Juni 1949 akhirnya Yogyakarta dibersihkan dan batalion 426 ditempatkan ke Nganti dan Beran , pada rute mundurnya Belanda dari Yogyakarta.
Dua hari kemudian sisa batalion 426 yang antara lain ditempatkan di Sentolo , Kaliurang , Wonosari dan Bantul.
Dari tanggal 23 Mei 1949 batalyon 426 menggantikan pasukan dari 1-15 RI dengan pos-pos di Bantul , Sentolo , Gamping , Padokan dan Jogjakarta .
Pada tanggal 4 Juni 1949 2 kompi dari 5 RS ditambahkan ke batalyon 426 ditempatkan di Moentilan dan Salam . Pada tanggal 26 Juni 1949, Bantul dan Sentolo sebagai bagian dari pengosongan kota Yogyakarta di bawah tekanan dari PBB. Hari berikutnya juga dikosongkan pos ke Padokan dan Gamping. Pada tanggal 29 Juni 1949 akhirnya Yogyakarta dibersihkan dan batalion 426 ditempatkan ke Nganti dan Beran , pada rute mundurnya Belanda dari Yogyakarta.
Garde Regiment Prinses
Irene atau GRPIr adalah resimen garda infanteri yang difungsikan sebagai
pasukan infanteri bermotor. Putri Irene adalah cucu dari Ratu Belanda,
Wilhelmina yang bernama Irene.
Pasukan Arteleri Medan 2-2 RVA
Kendaraan lapis baja Humber Mk II
Kendaraan lapis baja Humber Scout
2e Esk.Paw
(Calmeyer eenheid)
Pada tanggal
21 Desember 1948, ketika eskadron bergerak maju bersama dengan kompi 2 dari RI 5-5
dengan tujuan Yogyakarta. Dan mencapai lapangan udara Magoewo, dimana mereka melakukan hubungan dengan para
penerjun payung yang diterjunkan disana sehari sebelumnya. Ini merupakan
operasi yang lebih besar dimana eskadron mengambil bagian selama Aksi Polisi II. Setelah itu waktu banyak dipergunakan untuk
patroli-potroli dan tugas konvoi, sebuah tugas yang memerlukan kerja keras dari pasukan karena kendaraan tempurnya tidak cocok untuk tugas ini.
Pada tanggal 29 Juni 1949 eskadron meninggalkan Yogyakarta.
Eskadron Vechtwagens
(Skadron Infanteri Mekanis) adalah satuan infanteri dengan IFV dan/atau APC.
Esk Vew bertempur sebagai satuan kavaleri (flanking manouver) dalam peperangan
di Hindia belanda / Indonesia.
Kegiatan perawatan tank ringan M 3 Stuart di Camp Patuk
Tank-ringan M-3 Stuart Mk III, penyusun utama 7e EskVew
Tank-ringan M-3 Stuart Mk V, penyusun utama 7e EskVew
Selama Aksi
Polisi II Eskadron Vechtwagens VII mengamankan jembatan-jembatan dan
mempekerjakan teknisi-teknisinya selama pergerakan ke Jogjakarta. Setelah itu
mereka bertugas patroli lagi, disamping berpartisipasi dalam berberapa operasi
besar di sekitar Bloembang, Jogja dan Sentolo. Di awal bulan Januari Eskadron
Vechtwagens VII mengambil bagian dalam serangan kejutan di Wates dengan
berhasil melakukan kontak dengan W Brigade. Dan dengan bekerja-sama dengan
Resimen Infantri 1-15 rute konvoi antara Jogja dan Magelang tetap terbuka dan
daerah luas disekitarnya berada dibawah kontrol mereka. Patroli-patroli
dilakukan baik dengan berjalan kaki maupun dengan tank-tank dan
kendaraan-kendaraan bersenjata.
Ketika lawan mencoba menyerang dan mengambil-alih Jogjakarta pada tgl. 1 Maret 1949 dengan memblokir semua jalan dan mengisolasi pos-pos luar yg lebih kecil, peleton 3 dari Eskadron Vechtwagens VII yg mengagalkan penyerangan dan mengetahui adanya bahaya. Bersama dengan Infantri KNIL V dan Eskadron Pantserwagens 2, Eskadron Vechtwagens VII meredakan penyerangan tersebut. Dua buah tank patroli bergegas turun ke jalan kecil dan membuat Letnan II G. van Osch terjun dalam kekacauan ketika sebuah ranjau German meledak di depan tank, meledakkan sisi kanan dari tanknya. Menembak dengan apapun yg dimiliki mereka, kedua tank tersebut menarik diri dari daerah mematikan (tank Letnan 2 G. van Osch menggunakan sisi kiri) dan menahan lawan sampai peleton II yg menjawab panggilan radio mereka datang menyelamatkan mereka.
Ketika lawan mencoba menyerang dan mengambil-alih Jogjakarta pada tgl. 1 Maret 1949 dengan memblokir semua jalan dan mengisolasi pos-pos luar yg lebih kecil, peleton 3 dari Eskadron Vechtwagens VII yg mengagalkan penyerangan dan mengetahui adanya bahaya. Bersama dengan Infantri KNIL V dan Eskadron Pantserwagens 2, Eskadron Vechtwagens VII meredakan penyerangan tersebut. Dua buah tank patroli bergegas turun ke jalan kecil dan membuat Letnan II G. van Osch terjun dalam kekacauan ketika sebuah ranjau German meledak di depan tank, meledakkan sisi kanan dari tanknya. Menembak dengan apapun yg dimiliki mereka, kedua tank tersebut menarik diri dari daerah mematikan (tank Letnan 2 G. van Osch menggunakan sisi kiri) dan menahan lawan sampai peleton II yg menjawab panggilan radio mereka datang menyelamatkan mereka.
Diketahui
bahwa dikemudian hari Jogjakarta dievakuasi dan dikembalikan kepada lawan. Para
lawan masih melanjutkan aksi mereka di dalam daerah tersebut dan menyebabkan
penundaan penarikkan diri. Tetapi evakuasi berlanjut dan pada tgl. 30 Juni 1949
peleton tank III dari Eskadron Vechtwagens VII meninggalkan Jogjakarta, bersama
dengan peleton III dari Eskadron Pantserwagens II sebagai unit pasukan Belanda
yg terakhir.
5e Genie
Veld Cie
Pada awal Aksi Polisi II tidak banyak pekerjaan,
karena di medan pertempuran hanya ditempatkan beberapa hambatan oleh pihak TNI.
Dan karena itu Yogyakarta bisa dicapai pada tanggal 21 Desember 1948 .
Setelah akhir Aksi Polisi II tugas utama 5e Genie Veld
Cie adalah untuk memperbaiki jembatan dan jalan setelah disabotase oleh pihak
TNI. Hal ini terus dilakukan sampai 5e Genie Veld Cie kembali ke Semarang pada
tanggal 29 Juni 1949 saat Yogyakarta ke pihak Indonesia.
2 GnParkCie
Pasukan
Perbekalan dan Angkutan
4eCie AAT
Aan en Afvoertroepen
(Perbekalan dan Angkutan) adalah pasukan yang mengorganisasikan perbekalan dan
angkutan.
Pasukan Perhubungan
VbdA T-Brigade (Perhubungan Brigade T)
Pasukan Kesehatan
31th HpVa (Hulp Verbandplaats Afdeling / Seksi Bantuan Medis)
Pada Aksi
Polisi II pada tahun 1948 31th HupVa (Seksi Bantuan Medis 31) membuka rumah sakit di Yogyakarta bekerja
sama dengan Dr. Yap . Tapi ketika Belanda mengembalikan Yogyakarta ke Indonesia
lagi, pasukan 31th HupVa meninggalkan pada tanggal 28 Juni 1949 bersama dengan
sisa pasukan Belanda.
Tentang kekuatan Belanda yang pernah masuk ke Yogyakarta pernah terdokumentasikan di kantin garnisun Belanda di Yogyakarta tahun 1949.
Tentang kekuatan Belanda yang pernah masuk ke Yogyakarta pernah terdokumentasikan di kantin garnisun Belanda di Yogyakarta tahun 1949.
Sumber
www.dekolonisatie.com/troepenoverzicht.htm
http://www.hetdepot.com/emblemen8.html
http://www.indie-1945-1950.nl/web/5grgr.htm
http://www.kaskus.co.id/thread/54222bed98e31bfd658b456e/organisatie-van-de-nederlandse-landstrijdkrachten-operatie-product-amp-operatie-kraai
http://tijgerbrigade.com/infmainindo.html
http://www.kaskus.co.id/thread/54222bed98e31bfd658b456e/organisatie-van-de-nederlandse-landstrijdkrachten-operatie-product-amp-operatie-kraai
http://tijgerbrigade.com/infmainindo.html
trimakasih , jadi bertambah pengetahuan sejarah
BalasHapus