Selasa, 02 Desember 2014

Komunitas dalam Menjaga Kelestarian Monumen di Yogyakarta

Komunitas dalam Menjaga Kelestarian Monumen di Yogyakarta

Berawal ketika komunitas Djokjakarta melewati daerah dusun Klaci II Margodadi Seyegan Sleman pada tanggal 10 Agustus 2014 dan melihat kondisi Stadion Monumen TGP yang dicat dengan warna bendera Palestina dan plakat tetenger yang kena vandalisme dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab. 


Dilanjutkan dengan pengamatan Mas Andra pada tanggal 14 Agustus 2014.  Dan hasil foto kondisi Stadion Monumen TGP tersebut diunggah ke media sosial Facebook dan kemudian mendapat tanggapan positif untuk mengecat ulang Monumen TGP tersebut dengan warna Sang Merah Putih.


Komunitas Djokjakarta 1945 bersama kelompok penggemar airsoftgun dari Detasemen Cobra yang secara bahu membahu melakukan pengecatan ulang Monumen TGP tersebut pada tanggal 17 Agustus 2014 dari pagi hingga malam hari. Sehingga akhirnya Monumen TGP bisa kembali ke fungsi aslinya sebagai tetenger untuk menggugah semangat Nasionalisme bangsa ini dengan mengecat Monumen TGP tersebut dengan warna bendera Merah Putih dan mengecat ulang tetenger yang ada di Monumen TGP tersebut..

 

Dan hingga tanggal 13 November 2014 saat dicek sama Mas Penyo (Eko Isdianto) masih nampak bersih.


Ini adalah Monumen yang pertama kali ditangani oleh Komunitas Djokjakarta 1945 dan masih banyak lagi monumen-monumen di sekitar Yogyakarta yang akan ditangani oleh Komunitas Djokjakarta 1945.
Semoga saja kerjasama antara Komunitas Djokjakarta 1945 dan Detasemen cobra dalam merawat monumen akan dapat terus berlanjut dan juga semoga ada partisipasi dari seluruh warga Yogyakarta dan sekitarnya untuk merawat monumen-monumen perjuangan yang ada.

Senin, 01 Desember 2014

Sejarah Tentara Genie Pelajar

Sejarah Tentara Genie Pelajar

 Lambang Tentara Genie Pelajar

Karena perlunya tentara untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru berdiri maka di Surabaya terbentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat), PRI (Pemuda Republik Indonesia), AMI (Angkatan Muda Indonesia), BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) dan lain sebagainya. Pada 1 Oktober 1945, 20 orang siswa STN/SMTT mengikuti para guru mereka, di antaranya Hasanudin dan Kaswadi, masuk menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Tehnik. Selama masa perebutan kekuasaan, pasukan pelajar (BKR Pelajar) aktif menyertai perebutan senjata, antara lain penyerbuan terhadap tangsi Don Bosco dan tempat lain yang memungkinkan pasukan menambah jumlah persenjataannya. Akhirnya mereka bermarkas di bekas Tentara Jepang Don Bosco Jalan Tidar Surabaya.



 Gedung Don Bosco di Jalan Tidar Surabaya 
yang pernah menjadi gudang senjata tentara Jepang

Pada tanggal 2 Oktober 1945, setelah Jepang menyerah, lalu senjata-senjata yang berlimpah oleh karena ada satu brigade Angkatan Darat Jepang dan satu armada Angkatan Laut Jepang yang meng “hibah” kan persenjataan tempurnya maka senjata-senjata ini seperti dibagikan gratis kepada banyak pemuda dan rakyat Surabaya. Termasuk disini pemuda-pemuda pelajar mulai dari SMP, SMT (Sekolah Menengah Tehnik), ST dan SMTT.
Selanjutnya para pelajar SMP, ST, SMT, SMTT di Surabaya akhirnya membentuk pasukan pelajar yang mereka sebut Staf atau kelompok. Pada masa itu di Surabaya ada 4 kelompok kesatuan pelajar antara lain
1. Staf I kelompok pelajar SMT Darmo yang dipimpin Isman,
2. Staf II kelompok pelajar SMTT dan ST pimpinan Sunarto,
3. Staf III kelompok SMP Praban dan SMP Ketabang, dan
4. Staf IV kelompok pelajar lainnya yang bermarkas di Heren Straat.
Pada tanggal 25 Oktober 1945 kelompok-kelompok pelajar tersebut oleh Sungkono dimasukkan dalam BKR (Badan Keamanan Rakyat) dengan nama BKR Pelajar. Mereka sempat turut berjuang di pertempuran Surabaya pada tanggal 28 oktober dan 10 Nopember 1945.
Pada saat pertempuran di Surabaya ini Staff II yang unsurnya terdiri dari pelajar-pelajar Sekolah Teknik dibawah pimpinan Sunarto. Pada tanggal 17 November 1945 Staff II/Genie Pelajar ini di bawah perintahkan pada bagian Teknik Kementrian Keamanan di Surabaya yang dikepalai oleh Kolonel Suharnowo. Dalam menghadapi Sekutu (Inggris) di Surabaya pasukan Genie Pelajar mendaat tugas untuk :
1. Mengamankan pemancar radio yang ada di kantor Kementrian Keamanan.
2. Menyingkirkan mesiu dari gudang-gudang mesiu, antara lain dari Don Bosco, untuk dimanfaatkan dalam perjuangan.
3. Membuat design ranjau-ranjau yang digunakan untuk merugikan pihak musuh.
4. Merusak jembatan-jembatan dan alat komunikasi lainnya.
Sewaktu bertempur selama di Surabaya para pejuang yang tergabung dalam TGP antara lain Hartawan, Sucihno, dan Suwandi berhasil menghancurkan beberapa kendaraan tempur pihak Sekutu (Inggris).
Untuk mengurangi jumlah korban lagi, maka Pasukan Republik Indonesia ditarik mundur menuju Gunungsari, Sepanjang, Karangpilang. Di Karangpilang inilah Bapak Hasanudin (Komandan TKR tehnik) terkena ledakan pasangannya sendiri. Beberapa hari kemudian pasukan ditarik mundur lagi ke Pabrik Gula Krian, Mojokerto, Jombang terus menetap di Pabrik Gula Cukir Jombang.
Selain di Surabaya, Genie Pelajar ini tumbuh dan berkembang diberbagai kota seperti di Yogyakarta, Magelang, Solo, Pati, dan Madiun. Pertumbuhannya selalu dipelopori oleh pelajar-pelajar Sekolah Teknik aau pertukangan. Di beberapa kota mereka mendapat bimbingan para mahasiswa yang tergabung dalam Corps Mahasiswa (C.M). Dan satuan-satuan TGP dibeberapa kota lainnya ada juga yang tergabung dengan satuan TNI.
Pada tahun 1946 TGP yang ada di kota Magelang yang dipimpin oleh Sukirno bergabung dengan TGP Yogyakarta yang dipimpin oleh Sunjasworo. TGP Magelang dan Muntilan berhasil membuat senjata stengun sebanyak 6 – 7 pucuk setiap bulannya. Atas pimpinan Sadli (bekas Menteri pertambangan), di Magelang didirikan satu laboratorium bahan peledak. Dari bahan-bahan peledak tersebut, kemudian dibuat granat-granat, granat gombyok, bom molotov, dan peledak gedung. Prestasi mereka ini berkat pelajaran yang diberikan oleh para mahasiswa dibawah pimpinan Sadli yang tergabung dalam Corps Mahasiswa.
Proses pembuatan granat gombyok ini berbahan bom yang dijatuhkan dari pesawat cocor merah yang tidak meledak, oleh para pemuda diambil. Kemudian digergaji untuk diambil mesiunya. 
Serbuk mesiu dimasukan ke dalam besi yang beberbentuk seperti cawan. Dalam cawan sudah ada campuran patahan besi dan paku. Setelah itu cawan ditutup menggunakan besi (bukan baja) yang dibagian belakanganya sudah ada ekor yang terbuat dari kain (gombyoknya).
Dalam penggunaannya lemparan granat gombyok rata-rata mencapai 15-20 meter  

Namun demikian granat gombyok ini sering menelan korban penggunanya oleh karena  beberapa faktor :
1. Kesalahan dalam memasukan penekan dari atas ke dalam benda yang seperti cawan.
2. Cara melempar yang tidak memegang gombyoknya.
3. Seharusnya jatuhnya lemparan ke depan tapi mebalik ke belakang karena faktor ketakutan.

Pada 14 Oktober 1946, dalam suasana gencatan senjata dan status quo, dirintis upaya perundingan RI-Belanda yang menghasilkan perjanjian Linggarjati. Selama itu diberlakukan suatu keadaan gencatan senjata dari kedua belah pihak. Dengan tidak adanya lagi tugas-tugas operasional pembelaan negara, maka para pelajar pejuang bersenjata menarik diri dari medan pertempuran untuk belajar kembali menekuni pendidikan di sekolah. Disusul kemudian ada pengumuman dari sekolah bahwa STN/SMTT akan dibuka kembali di Lawang, Malang, Blitar dan Kediri.
Khususnya bagi murid kelas III STN/SMTT akan dibuka di Lawang dan diasramakan di Jalan Sumberwaras Lawang. Di Lawang kurang lebih 5 bulan ada kenaikan kelas, kemudian sekolah dipindah lagi ke Kota Malang yang untuk sementara waktu masih menumpang di gedung Katholik Corjesu (sekarang berada di depan Rumah Sakit Umum Celaket Malang).
Tidak berapa lama, sekolah dipindah lagi ke SMP Kristen di Jalan Semeru No. 42 Malang. Di sinilah tempat kelahiran kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP) di bawah pimpinan Soenarto terbentuk, tepatnya pada tanggal 2 Februari 1947. Semboyan TGP saat itu Berjuang Sambil Belajar. Ide mendirikan TGP oleh sekelompok pelajar pejuang SMTT sebenarnya sudah ada sejak di asrama Sumberwaras Lawang sampai di mess Jalan Ringgit Malang. Peristiwa ini sekaligus juga dimanfaatkan untuk pendaftaran bagi yang berminat menjadi anggota pasukan pelajar pejuang yang baru, Tentara Genie pelajar. Pembentukan satuan baru ini diawali dengan acara pendidikan dan latihan, baik dalam dasar-dasar militer sekaligus juga spesialisasi tugas genie. Pelatihan itu diselenggarakan selama dua minggu di Kesatrian, Rampal, Kota Malang. Bersamaan dengan itu juga dilakukan aksi anjuran untuk membentuk satuan TGP dan bergabung dengan TGP Malang. Sedangkan latihan dasar kemiliteran dilatih oleh para pelatih dari Sekolah Kadet Angkatan Laut Malang. Batalyon TGP Brigade 17 TNI yang di bawah pimpinan Kapten Hartawan dan berpusat di madiun ini terbagi menjadi 4 Kompi yaitu
1. Kompi I berada di Malang, Blitar dan Pare (Kediri),
2. Kompi II berada di Madiun, Bojonegoro dan Pati,
3. Kompi III berada di Solo, dan
4. Kompi IV berada di Yogyakarta.
Perjalanan sejarah TGP Kompi I yang di Malang selama Perang Kemerdekaan
Belum genap enam bulan usia TGP sudah menghadapi ujian pertama yang berat, yaitu pada tanggal 21 Juli 1947 Belanda melancarkan operasinya yang lebih dikenal dengan Perang Kemerdekaan I. Pada pukul 16.00 terdengar siaran dari unit-unit penerangan melalui pengeras suara dengan kata-kata Ibu Pertiwi dalam bahaya , yang merupakan kata-kata sandi bahwa mulai mengadakan serangan. Malam hari pukul 19.00 semua perwira staf dan komandan kesatuan Divisi VII berkumpul di Markas Divisi, termasuk Komandan TGP. Pada apel tersebut dikeluarkan perintah harian Panglima, bahwa pasukan baru meninggalkan kota Malang setelah kota tersebut menjadi lautan api.
Dengan bekal instruksi atau perintah tersebut, maka malam itu juga di Markas TGP Jalan Ringgit 5 diadakan rapat staf dan komandan seksi, untuk menentukan langkah-langkah yang harus diambil :
1. Mengirimkan beberapa regu untuk mengadakan aksi-aksi penghambatan sepanjang jalan Pandaan Lawang
2. Beberapa regu ditugaskan untuk bumi hangus kota Malang, termasuk lapangan terbang Bugis.
3. Persiapan pemindahan Markas TGP ke sebelah barat Kali Kepanjen.
4. Sisanya tetap berada di Pos Komando yang pemindahannya disesuaikan dengan situasi pertempuran.
Selagi anggota staf masih berkumpul di Markas Jalan Ringgit, pada tanggal 22 Juli jam 03.00 terdengar ledakan yang hebat disertai jatuhnya serpihan-serpihan plafon. Dengan perasaan mendongkol, karena peledakan tersebut dianggap belum waktunya dan bertentangan dengan perintah Panglima, maka Komandan TGP disertai beberapa orang meninggalkan markas menemui Panglima Divisi untuk memprotes kejadian tersebut, sambil meminta instruksi lebih lanjut dan melaporkan hasil rapat yang baru lalu.
Siang harinya, setelah terlihat gejala dikosongkannya kota Malang, maka diambil inisiatif untuk mengambil alih tanggunggjawab bumi hangus kota Malang. Tindakan pertama yang dilakukan adalah meminta pada Kepala-kepala Kantor seperti, kantor Tilpon, RRI, Perusahaan listrik dan
Station Malang. Kepada mereka diminta kesediaannya menerima pengawasan dan penghancuran mereka dan mulai mengungsikan alat penting mereka ke Ngebruk dan Sumberpucung. Pada kesempatan itu TGP juga meminta agar kendaraan, peralatan tilpon dan kabel listrik mereka
diserahkan pada TGP. Ada 1 bus, 1 sedan, 1 truk, 1 pick up yang diperoleh TGP dan kemudian berhasil diselamatkan ke luar kota sewaktu tentara Belanda masuk kota Malang.
Gambar . Penghancuran Jembatan. Pada tanggal 23 Juli Markas TGP dipindahkan ke Sumberpucung.
Sedangkan Pos Komando dibagi, Posko depan tetap berada di jalan Ringgit dan Posko Utama di Bululawang. Posko depan bertugas sebagai tempat kumpul bagi anggota TGP yang masih berada didepan dan tempat koordinasi penghancuran kota Malang. Posko Utama bertugas sebagai tempat koordinasi aksi-aksi penghambatan jalan Malang Kepanjen. Setelah mendapat berita, bahwa Belanda akan melanjutkan operasinya dari Lumajang ke Malang Selatan, maka dikirimkan 1 regu untuk menghancurkan jembatan Gambirsari (Pasirian). Jembatan tersebut berhasil diputuskan.
Pada tanggal 26 Juli jam 04.00 pagi terdengar berita, bahwa jembatan jembatan sebelah timur Kepanjen akan diledakan oleh Detasemen Genie Divisi VII. Karena sebagian besar pasukan masih banyak yang berada di sebelah Timur Kali Kepanjen lengkap dengan senjata beratnya, maka diputuskan untuk mengambil alih pengawasan dan penjagaan jembatan Malang-Kepanjen dan Dampit-Kepanjen. Dan pada hari-hari berikutnya diledakan juga studio RRI, setasion Kereta api Malang, Penghancuran landasan pangkalan udara Bugis, Gedung KNI, Kantor Karesidenan dan hotel Palaco. Kota Malang jatuh pada tanggal 31 Juli 1947.
Setelah Posko Utama TGP pindah ke Bululawang pada tanggal 24 Juli 1947 maka mulai dipersiapkan penghancuran Pabrik Percetakan Uang Negara Kendalpayak dan pabrik Gula Krebet. Setelah selesai mengungsikan mesin mesin cetak dan uang kertas sebanyak 5 gerbong Kereta Api, maka pabrik tersebut diledakkan, pada hari yang sama jembatan Kereta api yang melintasi Kali Brantas di Kendalpayak juga diledakkan sampai putus. Satu kilometer di selatan jembatan tersebut ada lagi jembatan kereta-api Sempal wadak juga diledakkan oleh TGP.
Selama di Bululawang, markas TGP menempati sebuah gedung Sekolah Dasar. Di sini pelajar Saleh mendapat cedera, tangan kirinya putus kena ledakan detonator. Pada masa persetujuan Renvile Bululawang menjadi daerah demarkasi. Pada tanggal 1 Agustus setelah mendengar bahwa Belanda menuju kearah Bululawang dengan pasukan Kavaleri, maka kekuatan utama TGP bergerak menuju Sumberpucung, kecuali kelompok komando yang masih akan menghancurkan penimbunan amunisi di Wajak dan jembatan Srigonggeng. Sambil mengundurkan diri pasukan utama menghancurkan pabrik Gula Krebet, sedangkan jembatan Srigonggeng baru dipasang dan diledakan pada malam hari, karena pasukan kavaleri Belanda menurut informasi para pengungsi (rakyat) berada tidak jauh dari jembatan tersebut di seberang sungai. Jembatan berhasil diledakan dengan 4 buah ranjau laut. Semua kekuatan TGP tiba dengan selamat di Sumberpucung tanggal 2 Agustus.
Pada September 1947, dari Sumberpucung TNI melakukan gerakan Wingate (menyusup jauh ke wilayah musuh) kedaerah pendudukan Belanda di ujung Jawa Timur. Ada 3 regu Khusus TGP yang ditugaskan ikut serta dalam gerakan Wingate itu sebagai kesatuan pioner Regu Lutfi
bersama Batalyon Syarif menuju Probolinggo, Regu Sisworo bersama Batalyon Sukertio menuju Lumajang sedang Kasbi bersama Batalyon Magenda menyusup ke daerah Jember. Di luar itu masih ada lagi satu regu khusus TGP pimpinan Chenot Santoso menyusup ke daerah Malang Selatan.
Gerakan Wingate ini merupakan perjalanan yang berat, karena perjalanan dilakukan tidak melalui jalan raya, untuk menghindari perjumpaan dengan patroli pasukan Belanda, melainkan melalui jalan kampung, jalan setapak dan kadang-kadang bahkan menerobos hutan. Kelompok yang menuju Probolinggo ada yang menerobos melalui Gunung Bromo dan ada pula yang melewati lereng selatan G. Semeru. Mereka berbasis di Patayan di Selatan Probolinggo. Bersama Batalyon Abdul Syarief mereka melalukan serangan umum . Serangan itu dilakukan tepat menjelang ditandatanganinya Perjanjian Renville tanggal 17 Januari 1948. dalam serangan ini regu TGP mendapat tugas menghancurkan jembatan di desa Pasir, + 3 km dari Probolinggo, yaitu jembatan jalan raya Probolinggo Pasuruan dan jembatan kereta api di dekatnya. Putusnya jembatan tersebut membawa akibat Jeep tentara Belanda bersama penumpangnya yang berjalan cepat terperosok masuk sungai. Disamping merusak jembatan tersebut mereka juga berhasil merusak jembatan kereta api di selatan Leces sehingga hubungan kereta api Surabaya Jember untuk beberapa hari putus. Kelompok yang ke Lumajang melakukan Sabotase terhadap pembangkit tenaga listrik di daerah itu. Selesai dengan tugas Wingate tersebut kemudian mereka kembali lagi ke Sumberpucung. Dengan tercapainya persetujuan Renville kemudian terjadi genjatan senjata. Pada masa gencatan senjata ini, TGP kemudian memanfaatkan waktu luang itu untuk melakukan konsolidasi dengan pengembangan organisasi.
Tugas utama sesudah terkonsolidasi adalah mempersiapkan usaha perlawanan terhadap serangan musuh di daerah poros gerakan Kepanjen, Wlingi, Lodoyo Blitar dengan penghancuran jembatan-jembatan dalam poros jalan tersebut dan berakhir dengan melaksanakan bumi hangus total kota Blitar. Yang kedua mempersiapkan bakal calon daerah yang dapat dikembangkan sebagai basis sekaligus kantong RI bagi kompi I di daerah kota Blitar apabila harus meninggalkan kota Blitar. Daerah Operasi gerilya kompi I, tidak terbatas di daerah sekitar Blitar dan Pare saja, melainkan juga sampai ke daerah Malang selatan. Salah satu kelompok kecil TGP yang bertugas di daerah Malang Selatan adalah kelompok Sunardi, terdiri dari empat orang anggota dari Peleton I. Mereka adalah Suwiadi, Sunarto, Kusbagyo dan Sunardi. Di desa Bodo, Ngebruk bersama pasukan TRIP pada tanggal 9 April 1949 mereka melakukan penghadangan terhadap konvoi Belanda. Ranjau darat yang mereka pasang berhasil merusak sebuah panser dan sebuah truck Belanda. Esoknya di desa Kebonsari, Ngebruk, bersama pasukan TRIP mereka terlibat pertempuran dengan satu kompi pasukan Belanda. Serangan Belanda yang gencar dengan Brengun, stengun dan Tekidanto, menyebabkan kedua pasukan pelajar yang bertahan dibalik jalan kereta api jadi kewalahan. Dalam pertempuran ini, lima orang pemuda TRIP gugur.
Setelah peristiwa tersebut kelompok TGP pindah ke Desa Duren Klayatan, bermalam dirumah seorang penduduk. Pada tanggal 16 April 1949, tengah malam sekitar jam 22.30, tempat mereka menginap tiba-tiba disergap oleh tentara Belanda. Pasukan Belanda yang tiba-tiba saja telah berdiri dimuka pintu, langsung melepaskan tembakan terhadap Suwiadi dan Sunarto yang sedang beristirahat di bale-bale. Suwiadi seketika gugur, sedang Sunarto dan Sumardi menderita luka-luka tertawan dan terus dibawa ke Malang. Kusbagyo tidak hadir dalam peristiwa tersebut, karena siang harinya sedang dapat tugas ke Malang untuk mencari peluru. 
Dalam patung yang berada di pertigaan Jalan Tangkuban Perahu dan Jalan Semeru yang bersebelahan dengan Stadion Gajayana Malang ini adalah penghargaan kepada pahlawan pelajar Tentara Genie Pelajar (TGP) diabadikan.


Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) di Malang

Perjalanan sejarah TGP Kompi II di Madiun selama Perang Kemerdekaan
Pada waktu menghadapi pemberontakan Madiun disiapkan 1 kompi TGP (Kompi II) di bawah pimpinan Sumantri dengan tugas menjinakkan bom-bom yang dipasang oleh pemberontak PKI yang berusaha meledakkan gedung-gedung dan obyek-obyek penting di Madiun. Caranya ialah dengan memasukkan semen ke dalam detonatornya supaya tidak dapat meledak. Tugas ini dapat dilaksanakan dengan baik, kecualibom yang dipasang di kantor telepon yang gagal karena terlambat.
Selama masa gerilya TGP di Jawa Timur berhasil mendirikan rumah sakit bedah darurat untuk merawat pejuang pelajar yang terluka. Rumah sakit darurat ini didirikan di Kulon Bendang di kawasan perkebunan kina dan dananya diambil dari hasil rampasan Belanda dan uang perkebunan. Dan dokter-dokternya diambil dari kota. Dengan adanya rumah sakit bedah darurat ini maka banyak pejuang pelajar yang terluka nyawanya bisa diselamatkan.
Perjalanan sejarah TGP Kompi III di Solo selama Perang Kemerdekaan.
Tentara Genie Pelajar ini di bawah berkekuatan 1 kompi serta dipimpinan oleh Djoko Rahardjo dan kemudian berpindah ke Gadjah Suranto. Namun setelah gugurnya Gadjah Suranto gugur pada tanggal 27 Maret 1949 maka pimpinan TGP dikembalikan di bawah pimpinan Djoko Rahardjo. 
Pasukan ini terbagi menjadi 2 seksi yaitu :
1. Seksi Pioner atau VC (Verniellings Corps) yang dipimpin oleh Trisno Babi dengan tugas bumi hangus / penghancuran selain fungsi tempur. Asramanya di Gendengan (ST).
2. Seksi Fabricage yang dipimpin Suradio Gendut, Mulyo dll. Tugasnya perbengkelan, perbaikan atau service senjata, dan pembuatan amunisi serta merencanakan dan menciptakan senjata.
 

Sedangkan staf administrasi dan perlengkapan/perbekalan bertugas mencari bahan baku untuk amunisi dan suku cadang senjata. 
Unit-unit aktifitas TGP dibantu dan kerja sama dengan Batalyon Genie serta mendapat bimbingan oleh tokoh-tokohnya yaitu Mayor Suhardi, Mayor Parmujo, dan Mayor Wagiman tempat latihannya markas Genie dan P. H. B yang terletak di bekas sekolah Van Deventer  School - Timuran.  
Kompi III TGP yang berada di Solo tergabung di bawah Brigade 17 Fabricage A Batalyon 100 menempati markas berupa gedung yang merupakan pabrik senjata perang di Solo. Suatu prestasi atau hasil kreasi yang pantas dibanggakan dari para taruna TGP Solo yang berusia belasan tahun ini adalah berhasil menciptakan sebuah jenis senjata ringan automatis yang diberi nama Pren Gun atau sering pula disebut "Sprang Gun" alias Supranggoro Gun karena nama pembuatnya bernama Supranggoro. Pabrik pembuatan senjata automatis Pren Gun ini berada di Ngrejo, Tirtomoyo Wonogiri (di luar kota Solo). 

 Penampakan Pren Gun karya Supranggoro dari TGP Fabricage A Kompi III Detasemen II
 
TNI Brigade XVII TP Satuan Polisi Militer, dg Senjata "Sten Gun" Made In Satuan TGP Fabricage A Kompi III Detasemen II nampak Supranggoro dalam foto paling kiri.

Pada tanggal 4 Agustus 1949 di daerah Purworejan, Kabupaten Karangayar. Saat itu, TGP di bawah pimpinan Soetojo Darmosarkoro bersama selusin pasukan TGP dan dibantu oleh pamong dan warga desa berhasil merebut pos milik tentara Belanda. Dalam peristiwa ini berhasil ditembak mati tiga tentara Belanda yang jadi pimpinan dan menawan 27 tentara Belanda yang memilih menyerah. Selain itu juga berhasil merampas dua sten gun dan dua bren gun dan dua unit pemancar radio dan ratusan peluru, yang termasuk modern pada masanya. Untuk mengenang aksi heroik itu, dibangun monumen TGP. Di monumen yang dibangun eks Tentara Pelajar tahun 1996 tersebut tertulis kata-kata: “Di sini sepasukan tentara Belanda tanggal 4 Agustus 1949 menyerah kepada TGP Fabricage A BE XVII. Operasi dipimpin Soetojo Darmosarkoro dibantu pamong dan pager desa”.
Perjalanan sejarah TGP Kompi IV di Yogyakarta selama Perang Kemerdekaan
Pada saat Agresi Belanda ke II tahun 1948-1949 Tentara Genie Pelajar (TGP) Brigade 17 TNI kompi IV yang ada di Yogyakarta bermarkas di dusun Klaci II Margodadi Seyegan. 

Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) di Klaci II Margodadi Seyegan.

Selanjutnya pada saat perlawanan bulan Juni 1949 Dua kompi pasukan Batalyon 151 Brigade X Divisi III Diponegoro, bersama satu regu Tentara Genie Pelajar (TGP) Brigade 17 TNI kompi IV dan dibantu oleh rakyat setempat melakukan serangan terhadap konvoi tentara Belanda di jalan raya Prambanan, Piyungan, Wonosari sebelah dusun Serut. Dalam persiapannya pasukan kita telah dapat memperoleh dua bom lengkap dengan detonator listrik masing-masing seberat 250 kg, dari gudang senjata peninggalan Belanda tahun 1942. Gudang senjata ini adalah sebuah gua yang berlokasi di bukit Pengklik, Berbah. Bom-bom tersebut oleh para pejuang bersama rakyat diangkut dan ditanam di jalan raya tersebut di atas. Pasukan pejuang diberangkatkan dari dusun Berbah setelah matahari terbenam dan sampai di lokasi sekitar pukul 8 pagi. Setiba di tempat pasukan langsung mengadakan persiapan berupa penanaman bom-bom (ditanam dengan jarak ± 50 m dari jalan raya dan menentukan tempat-tempat pertahanan (steling). Dengan dilengkapi dua bom tersebut di atas dengan detonator listrik memungkinkan komandan pasukan memilih/menentukan waktu yang tepat untuk meledakkan bom. Menjelang pukul 08.00 pagi terdengar gemuruhnya suara konvoi yang datang dari arah Prambanan menuju ke selatan arah Piyungan – Wonosari. Konvoi dibiarkan mendekat dan pada saat sebagian besar kendaraan konvoi yang terdiri dari kendaraan lapis baja, brencarrier, truk dan jeep berada di antara atau dekat dua bom tersebut maka kedua bom diledakkan secara simultan. Sangat beruntung bagi pasukan dan rakyat Indonesia waktu itu, bahwa tentara Belanda tidak menaruh curiga atas adanya bom-bom tersebut. Oleh sebab itu, tentara Belanda pada serangan Serut ini menderita kerugian yang sangat besar, baik kerugian jiwa maupun kerugian material. Sebagai akibat dari ledakan-ledakan bom terlihat banyak anggota badan dan tengkorak tentara Belanda berserakan di sawah dan ladang sekitar kejadian, demikian juga potongan-potongan/kepingan-kepingan kendaraan lapis baja, truk dan jeep. Tentara Belanda yang selamat langsung mengkonsolidasi diri dan terjadi tembak-menembak antara kedua pihak. Selama berlangsungnya tembak-menembak sebagian tentara Belanda tampak mengupayakan penyelamatan jenazah-jenazah dan yang luka-luka dari pihak mereka. Setelah itu sisa-sisa konvoi tentara Belanda berbalik arah dan kembali ke pangkalannya di pabrik gula Tanjung Tirto dan lapangan terbang Maguwo (sekarang Bandar Udara Internasional Adisucipto). Pada peristiwa itu dari pihak rakyat Serut, Regu TGP maupun Batalyon 151 tidak ada korban apapun.
Sesungguhnya banyak catatan aksi-aksi penghadangan yang dilakukan TGP, baik dalam peristiwa tersebut ada yang memakan korban jiwa maupun tidak. Tindakan pembelaan negara yang dilakukan oleh kalangan anak muda seperti, para pelajar pejuang bersenjata yang rata-rata usianya belum mencapai 20 tahun berkembang pula rasa berkompetisi atau bersaing untuk berbuat lebih baik dari yang dilakukan oleh kelompok lain. Sikap berkompetisi ini seringmenimbulkan kesulitan pengendalian pada mereka yang dibebani tanggung jawab kepemimpinan regu dan peleton. Tetapi sesungguhnya itulah suasana pasukan Pelajar Pejuang yang kadang juga menggambarkan ciri khas anak muda yang pemberani dan sedikit nekad. Terlebih dalam kegiatan aksi penghadangan, selain ada resiko maut bila terjadi kecelakaan, tetapi juga ada keisengan yang bermuatan kegembiraan melepaskan diri sesaat dari kondisi ketertekanan batin dan keletihan kecamuk peperangan. Seperti diketahui patroli depan iringiringan Tentara Belanda, lazimnya kelompo Kavaleri berkendaraan panser atau bren, cukup sering menemukan pasangan bom tarik yang kawat penariknya diikatkan pada rintangan pohon sehingga bila ada upaya untuk menyingkirkan rintangan pohon tersebut maka bom akan meledak, oleh karena itu mereka harus berhati-hati. Untuk sedikit memberi nuansa humor dibuatlah oleh kelompok penghadangan suatu jebakan semacam itu tetapi suatu pasangan tipuan yaitu tanpa pasangan bom tarik, dan sebagai gantinya sibuat seonggok kotoran manusia ditutup dedaunan secara rapi. Ini sudah dapat dipastikan akan menimbulkan amarah dan kejengkelan pada serdadu Belanda, yang dengan sendirinya juga harus menyingkirkan rintangan yang beraroma aduhai itu. Apa yang ditunggu anak muda TNI, pelajar pejuang yang sedang iseng mencari kegembiraan sesaat, ialah menyaksikan dari tempat persembunyiannya yang cukup jauh, peluapan amarah Belanda yang biasanya lalu menembak menghamburkan peluru kesembarang tempat sambil mencaci maki mereka juga menantang untuk berani berhadapan secara ksatria, jangan dengan cara-cara curang mengganggu tugas kami .. cara serupa juga sering dilakukan yaitu membuat onggokan kotoran sapi atau kerbau ditempat yang menarik kewaspadaan patroli musuh, sedangkan sesungguhnya onggokan itu kosong belaka, hanya suatu tipuan yang menjengkelkan serdadu Belanda. Selain itu gangguan ini juga berakibat melambankan gerak ofensif Tentara Belanda. Demikian anak-anak muda pelajar pejuang bersenjata merespons resiko tugas menghadapi maut dan serba kehidupan yang sulit sebagai pasukan gerilya, dengan lebih sering dicairkan dengan kegiatan yang lucu, tentu dalam ukuran para pelajar pejuang yang rata rata masih usia belia.

 Lambang Tentara Genie Pelajar yang lama
 Lambang Tentara genie Pelajar yang baru

Sumber: 
Catatan Kisah Perjoangan Taruna Patria Sala Merdeka atau Mati Bagian I, Karangan S. Diasmadi DSG. Diterbitkan Yayasan Al-Qalam, Jakarta. 1983, halaman 85-88.
Moehkardi, 1983, "Pelajar Pejuang TGP 1945 - 1950", Yayasan Ex batalyon TGP Brigade XVII, Surabaya.
Sigit Sugito, Drs., Suharsana, 1978, "Peranan Pelajar dan Mahasiswa dalam Perang Kemerdeaan Sebuah Ichtisar", Departemen Pertahanan Keamanan Pusat Sejarah ABRI, hal :17 - 18.
Tim Guru SMPN 2 Sumberpucung Malang, “Sejarah Singkat Kesatuan Pelajar Pejuang Kemerdekaan - Bag. I. Tentara Genie Pelajar (TGP)”

Minggu, 30 November 2014

Tentara Rakyat Mataram Badan Kelaskaran di Yogyakarta pada Masa Revolusi (1945-1948)

Tentara Rakyat Mataram Badan Kelaskaran di Yogyakarta pada Masa Revolusi (1945-1948)
Team Penulis Djokjakarta 1945

Tidak lama setelah diproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, muncullah berbagai pergolakan yang datangnya dari Sekutu. Pergolakan itu disebabkan oleh kedatangan Sekutu yang pada mulanya hanya bertujuan menjaga keamanan, melucuti tentara Jepang dan sekaligus memulangkan kembali ke negaranya. Namun ternyata kedatangan Sekutu disertai orang-orang Belanda (NICA) yang dipersenjatai sehingga rakyat Indonesia merasa curiga bahwa sebenarnya kedatangan Sekutu itu sebenarnya mempunyai maksud untuk menanamkan kembali kekuasaan Belanda di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa ternyata Sekutu sudah tidak mau lagi mengindahkan kedaulatan bangsa Indonesia, Akibatnya meletuslah pergolakan atau pertempuran besar di Jakarta, Surabaya, Magelang, Ambarawa, Semarang, Bandung untuk melawan Sekutu. Demikian di Yogyakarta saat itu juga terjadi pergolakan melawan Jepang, para pemuda dengan semangat tinggi dan penuh keberanian berhasil mendobrak dan membuka segel percetakan Surat Kabar Sinar Matahari. Selanjutnya para pemuda di bawah pimpinan Sumarmadi berhasil pula mengambil alih radio Jepang Hosokyoku. Suasana menjadi panas setelah para pemuda bersama rakyat dan Polisi Istimewa berhasil menurunkan bendera Jepang Hinomaru di Gedung Agung dan digantikan dengan bendera Merah Putih. Puncaknya adalah massa rakyat dapat menguasai markas Jepang di Kota Baru pada tanggal 7 Oktober 1945. Pada saat situasi dan kondisi yang tidak terkendali tersebut, tampillah Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk melindungi rakyatnya, dengan cara mengeluarkan beberapa maklumat. Adapun maksud beliau adalah untuk menampung para pemuda yang sedang bergelora, di pihak lain pemerintah sudah tidak mampu lagi menjamin keselamatan individu. Maka kemudian didirikanlah badan-badan perjuangan dengan berbagai nama dan semangat revolusi. Salah satu badan perjuangan yang muncul di Yogyakarta adalah BPRI Mataram yang tidak lain merupakan cikal Bakal terbentuknya TRM. Adapun aktivitas laskar TRM semata-mata berdasar suatu sikap anti penjajahan. Pada prinsipnya keberadaan TRM di Front adalah membantu tentara reguler dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Keberadaan TRM didukung oleh beberapa faktor diantaranya munculnya kelompok-kelompok laskar lain, sehubungan dengan dikeluarkannya plakat amanat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX; didapatkannya senjata dari Jepang: dikeluarkannya beberapa maklumat dukungan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX; adanya figur pemimpin yaitu Soetardjo sebagai koordinator laskar di garis depan maupun di garis belakang. Aktivitas TRM meliputi bidang politik (pertahanan) dan social . Dalam bidang politik, TRM baik ketika masih merupakan kelompok laskar maupun setelah menjadi batalyon reguler selalu aktif di berbagai Front. Diantaranya Front Magelang, Ambarawa. Pada saat menghadapi Sekutu yang mundur dari Magelang menuju Ambarawa pada tanggal 20 November 1945 pasukan TRM pimpinan Bung Tarjo dapat di cerai beraikan oleh musuh. Dan pada tanggal 14 Desember 1945 di Bedono Bung Tarjo mengkonsolidasi kembali pasukanya dan terbentuklah pasukan 22,20,8,40 dan lain-lain. Di pasukan TRM, sebutan itu berdasar jumlah dari pasukan tersebut. Dan ketika di perintahkan menyerang Ambarawa di pagi hari tanggal 15 Desember 1945,seluruh pasukan sudah siap dengan nama masing-masing yaitu pasukan 22 dengan nama "Alap-alap', pasukan 20 dengan nama "LEO" (Laskar Ekstrimis Oembaran) dan pasukan 40 menyebut dirinya pasukan 'Mangsa Patih". Selain di Magelang dan Ambarawa juga terlibat dalam pertempuran di Semarang, Ujung Bening, Majalengka, Ciranji, Mangkang dan sepanjang medan Kediri Utara serta Jawa Timur pada waktu Agresi Belanda I. Sedang di bidang sosial, TRM menyelengarakan dapur umum dan Palang Merah, aktivitas ini ditangani oleh anggota TRM-Putri (PRIP) dibawah pimpinan Widayati. Karena kegigihan, keuletan dan keberaniannya di medan pertempuran, maka para perwira Markas Besar Tentara (MBT) memasukkan laskar TRM ke dalam Divisi ketentaraan resmi. Maka pada tanggal 15 Maret 1945 berubah nama menjadi Batalyon XXII Istimewa di bawah Resimen II Divisi IX dengan pimpinan Batalyon I dengan pimpinan Jenderal Mayor RP. Sudarsono. Namun pada tanggal 10 Juli 1946, Batalyon XXII tersebut dirubah lagi menjadi Mobile Batalyon I dengan komandannya tetap Soetardjo. Adapun alasannya adalah agar ruang lingkup dan aktivitas operasionalnya lebih luas. Setelah periode Mangkang, pasukan Mobile Batalyon I banyak yang meninggalkan kesatuannya, sehingga pasukan Bung Tardjo tersebut tinggal satu kompi. Meskipun demikian sisa pasukan Bung Tardjo ini tetap meneruskan perjuangannya di bawah koordinasi Divisi III/Diponegoro. Pada tahun 1948 aktivitas TRM telah berakhir, berkaitan dengan rekontruksi dan rasionalisasi ketentaraan di Indonesia, maka Mobile Batalyon I kemudian ada yang meneruskan kariernya dalam militer dengan menjadi tentara, ada yang kembali ke masyarakat dengan menjadi wiraswasta dan sebagian lagi melanjutkan ke bangku sekolah. 
Perjuangan Tentara Rakyat Mataram ini diabadikan dalam sebuah monumen dengan nama "Monumen Gelora Rakyat Mataram 45" yang diresmikan pada tanggal 18 November 1990 yang dipersembahkan oleh Ikatan Keluarga Ex TRM kepada Masyarakat Yogyakarta. Dan monumen diresmikan oleh Sesepuh Ikatan keluarga Ex TRM aitu Bapak Radius Prawiro. Monumen berada di daerah Pingit ke selatan di dekat Jalan Tentara Genie Pelajar.

Monumen Gelora Rakyat Mataram 45
Prasasti peresmian Monumen Gelora Rakyat Mataram 45
 
 
 Plakat yang berisi perjuangan Tentara Rakyat Mataram
Relief yang ada di Monumen Gelora Rakyat Mataram 45
Gedung markas Tentara Rakyat Mataram
Konggres Pemuda II di Yogyakarta 10 November 1945
dan Perjuangan Bung Tarjo lewat radio
TRM ikut di front pertempuran di Magelang
Relief yang menggambarkan dikirimnyaTRM ke front pertempuran
menggunakan kereta api

Tentara Rakyat mataram dalam Pertempuran Ambarawa

Kondisi Monumen Gelora Rakyat Mataram 45 saat ini sungguh memprihatinkan karena kurang terawat an banyak ditumbuhi semak-semak di kanan kirinya dan kelihatan jarang dibersihkan. Apalagi reliefnya hanya bercat hitam jadi kurang menarik untuk dipandang.

Sumber, Hidayati, Abstrak "Tentara Rakyat Mataram Badan Kelaskaran di Yogyakarta pada Masa Revolusi (1945-1948)", Perpustakaan Universitas Indonesia.
"Yogya Benteng proklamasi", Barahmus DIY.

Jumat, 28 November 2014

Kelompok Pathuk Dalam Perjuangan Bangsa Indonesia

 Kelompok Pathuk Dalam Perjuangan Bangsa Indonesia
Team Penulis Djokjakarta 1945

Bangsa Indonesia sudah merdeka, akan tetapi banyak pahlawan yang luput untuk dikenang. Bangsa ini merdeka tidak hanya melalui perjuangan bersenjata, tapi juga peran pemuda terpelajar. Mereka pemberani dan bersemangat besar mewujudkan kemerdekaan bangsa.Dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak bisa lepas dari kota Yogyakarta. Selain menjadi pusat pergerakan rakyat, Yogyakarta juga telah banyak melahirkan kelompok atau organisasi maupun tokoh-tokoh kaliber nasional.
Salah satunya, adalah sekelompok pemuda terpelajar yang dikenal sebagai Kelompok Pathuk. Kelompok ini pada masa penjajahan Jepang tahun 1942 hingga zaman kemerdekaan selalu berkumpul di kampung Pathuk, di sisi barat Jalan Malioboro, Yogyakarta. Kelompok yang mencuat karena melahirkan para pelaku sejarah di Indonesia. Nama-nama besar seperti Syam Kamarruzzaman, Chairil Anwar, Syahrir, hingga DN Aidit dan Soeharto, adalah sedikit nama yang pernah dekat dengan kelompok ini.
Dimotori 4 sekawan satu sekolah di SMT (Sekolah Menengah Tinggi) Yogyakarta (sekarang SMA 3 ‘Padmanaba’), yaitu Kusumo Sunjoyo, Permadi Joy, Den Nyoto dan Dayino, Kelompok Pathuk memulai diskusi kecil soal kebangsaan dan politik di sebuah rumah kos di bilangan Pathuk, Yogya. Kelompok yang muncul pertama kali sekitar tahun 1943 itu memang tidak secara formal didirikan, karena saat Jepang berkuasa tidak mungkin dibentuk suatu kelompok secara terang-terangan, apalagi berbau politik. Kelompok Pathuk kemudian banyak dikenal kalangan luas sebagai salah satu Marx House.

Kenapa disebut demikian, karena Kelompok Pathuk banyak mendiskusikan buku Das-kapital karangan Karl Marx. Pilihan ini lebih didasarkan pada saat itu, “musuh” kita adalah kapitalisme yang lalu berkembang menjadi imperialisme. Dan satu-satunya referensi yang menentang kapitalisme adalah, Das-Kapital. Jadi jangan heran jika kebanyakan jebolan Pathuk adalah orang-orang yang basis sosialisnya kuat. Termasuk Dayitno yang pernah menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI). Saat itu, hampir semua orang mengaku sosialis, ada yang sosialis-nasionalis ada yang sosialis-religius.
Dayino berkisah, latar belakang berdirinya Kelompok Pathuk bermula saat Jepang menguasai Indonesia awal tahun 40-an. Jepang kemudian membebaskan tokoh pergerakan nasional seperti Soekarno, Bung Hatta dan Syahrir, yang sebelumnya ditahan Belanda di Banda Neira. Jepang menggunakan tokoh pergerakan untuk memobilisasi massa dalam menghadapi tentara Sekutu. Untuk itulah mereka bertiga dibebaskan.

Kelompok Pathuk ini adalah "gerakan bawah tanah yang dipimpin oleh Bung Sjahrir yang menolak bekerjasama dengan Jepang.
Berbeda dengan gerakan bersenjata, Sjahrir dengan kelompok Pathuk kala itu berpandangan bahwa bangsa Indonesia sebentar lagi akan merdeka dan tidak perlu perang bersenjata melawan Jepang, sebab yang berkuasa adalah Sekutu yang telah menang Perang Dunia kedua. Indonesia tidak akan kuat berperang melawan Sekutu pada saat itu, karena kekuatannya sangat besar. Syahrir, melalui radio yang ia punyai, mengetahui bahwa Jepang mengalami kekalahan dari Sekutu dalam perang Pasifik. Kemudian ia menghubungi Soekarno dan Hatta, bahwa Jepang akan kalah perang. Kemudian mereka bertiga sepakat untuk menyusun suatu pergerakan. Soekarno dan Hatta melalui jalur diplomatis, sedangkan Syahrir melalui gerakan bawah tanah
Menurut Sjahrir tugas bangsa adalah menyiapkan kader-kader yang akan jalankan tugas negara saat kemerdekaan datang makanya Syahrir mendirikan Pendidikan Nasonal Indonesia (PNI). Dan melalui PNI ini Sjahrir membuat jaringan di seluruh Indonesia. Jaringannya pemuda-pemuda yang memiliki kekuasaan di sektor penting, telekomunikasi, buruh kereta, dan sebagainya. Beberapa daerah akhirnya terbentuk semisal jaringan di Sumatera, Jawa dan Bali.
Jaringan PNI di Jawa di antaranya meliputi cabang Jakarta, Bandung, Cirebon, Yogyakarta, Solo, Madiun, Surabaya dan Malang. 

Di Surabaya Sjahrir memiliki jaringan pemuda bernama Johan Syahrusah. Johan memiliki kontak di Semarang, bernama Tobing dan Sunjono yang bekerja di Pusat Telekomunikasi. Dari Tobing inilah, Sunjoyo di Yogyakarta membuat Kelompok Pathuk. Sebagai catatan Sunjoyo adalah seorang pemuda pemberani, yang memimpin penculikan terhadap sejumlah pemuda yang menjadi antek-antek Jepang. Pemuda-pemuda pribumi yang menjadi pengikut Jepang itu diculik dan dibawa ke Pleret untuk ditelanjangi dan dipaksa berjalan pulang untuk memberi pelajaran.
Kelompok Pathuk yang beranggotakan KRT Yosodiningrat (yang lalu diangkat menjadi wakil Menhan), Umar Joy, Dayino, Muhammad Tohib, dan Sjam Kamaruzzaman (salah satu tokoh paling kontroversi dan misterius dalam gerakan Partai Komunis Indonesia. Sjam kala itu masih sangat muda. Kalau diskusi, duduknya paling pojok, hanya dengerin dan tidak pernah bicara).
PNI Yogya sendiri diketuai Wiyono Suryokusumo. Melalui Wiyono inilah, Dayino kemudian berhubungan dengan tokoh tua seperti Sugiyono Yosodiningrat (DPU), dr Usmargono, Mukhtar, S Parman (pahlawan revolusi) dan sebagian siswa dari Tamansiswa.
“Jaringan ini dimaksudkan untuk mendidik kesadaran nasional dan memberi pengertian bahwa kita harus merebut kemerdekaan. Karena itu, dibutuhkan anak-anak muda untuk melakukannya. Ya, dalam rangka itulah Kelompok Pathuk terbentuk. Kegiatannya adalah diskusi-diskusi untuk melakukan penyadaran-penyadaran serta membentuk jaringan di semua sektor. Makanya, Kelompok Pathuk punya jaringan sampai ke Telkom, PLN, para sopir dan montir yang bekerja pada Jepang. Bahkan punya jaringan khusus dengan pasukan PETA (Pembela Tanah Air).
Pada perkembangannya, banyak sekali pelajar yang bergabung dengan kelompok Pathuk ini semisal Munir, Harto Mulyo dan Sumardi dari Perguruan Tamansiswa yang akhirnya menjadi tokoh- tokoh yang membidani lahirnya PKI.

Jumlah anggotanya tidak pernah diketahui secara persis, karena sifatnya yang sangat terbuka. Tapi dalam sekali pertemuan bisa mencapai 20- an orang.
Selain melakukan gerakan bawah tanah, Kelompok Pathuk juga berperan aktif dalam pertempuran fisik semisal sesaat setelah proklamasi kemerdekaan di bulan Agustus 1945, kondisi Istana Negara Gedung Agung Yogyakarta masih dikuasai oleh Jepang. Dan pada pertengahan bulan September 1945, Kelompok Pathuk memimpin pengibaran bendera merah putih untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Kala itu yang bertugas mengibarkan bendera, ada pelukis terkenal Indonesia, Rusli. Sementara di Istana Negara itu masih banyak tentara Jepang yang berjaga-jaga. Namun, atas kedekatan Sunjoyo dengan Soeharto (Presiden RI kedua) yang menjamin keamanan kelompok Pathuk dari tentara Jepang kala itu maka kelompok Pathuk akhirnya berhasil mengibaran bendera merah putih untuk pertama kalinya di Yogyakarta. Itulah peran penting kelompok Pathuk dalam perjuangan kemerdekaan yang jarang ketahui. Kelompok Pathuk juga berperan penting saat terjadinya Pertempuran Kotabaru pada anggal 7 Oktober 1945.
Jadi tidak benar jika Soeharto (mantan Presiden RI kedua) memegang roll dalam pertempuran melawan Jepang di Kotabaru justru Kelompok Pathuk-lah yang dominan. Melalui jaringan Pathuk yang ada di Kantor Telepon (Sayogya) dan PLN, kami menyadap dan melakukan sabotase. Pada waktu itu, kelompok Pathuk memutus jaringan telepon dan aliran listrik (lewat gardu di sebelah timur Hotel Garuda) ke Kotabaru. Dari Sayogya juga, kelompok Pathuk mendapat informasi bahwa di salah satu menara Kantor Pos Besar terdapat 28 senjata beserta pelurunya. Dengan bantuan teman-teman kelompok Pathuk di Kantor Pos yang membuatkan duplikat kunci serta bantuan para sopir, kelompok Pathuk berhasil mengambil. Proses pengambilan senjata beserta pelurunya ini dipimpin oleh Sunjoyo. Saat itu Soeharto (mantan Presiden ke 2) menjabat sebagai Komandan Batalyon X. Ke 28 pucuk senjata milik Pustel yang berhasil direbut, kemudian diserahkan kepada Soeharto selaku komandan Batalyon X. Jadi jelas peran Kelompok Pathuk sangat besar dalam pertempuran Kotabaru.
Menyinggung keberadaan Soeharto di Kelompok Pathuk, Dayino menegaskan bahwa mantan Presiden RI kedua itu sama sekali bukan anggota Kelompok Pathuk. Ketika itu Soeharto adalah pemuda lonthang-lanthung karena sebagai tentara PETA (di Ponorogo), ia telah dilucuti karena Jepang kalah perang. Setelah kemerdekaan, Soeharto kadang-kadang muncul di markas kami. Itupun karena diajak Marsudi yang memang sering berdiskusi dengan Kelompok Pathuk.
Secara politik pun, lanjut Dayino, Soeharto tidak pernah bergabung. Karena kami penganut paham sosialis, sementara Soeharto mengejar ambisinya sendiri melalui jalur militer. Jadi sngat disayangkan mengapa nama Soeharto dimasukkan dalam monumen Pathuk. Demikian juga penonjolan peran Soeharto yang digambarkan dalam diorama pertempuran Kotabaru di Monumen Yogya Kembali, perlu diluruskan,” jelas Dayino.
Dayino mengatakan sebagai satu-satunya pendiri Kelompok Pathuk yang masih hidup juga kecewa, karena tidak pernah dilibatkan secara langsung dalam peringatan peristiwa bersejarah serangan ke Kotabaru itu. “Baru pada peringatan kemarin (7 Oktober 1998) saya dilibatkan. Itu pun cuma sebagai undangan,” kata Dayino yang saat ini tinggal di Ngadiwinatan.

Sumber: 

Bernas, 9 Oktober 1998
Hadi Suprapto, Erick Tanjung, "Kelompok Pathuk, Pengibar Merah Putih Pertama di Istana Yogya", VIVA.co.id, tahun 2012.

Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945

Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945
Team Penulis Djokjakarta 1945

Dimulai dengan adanya beberapa tokoh penting lain, seperti Soendjojo, Moeridan Noto, Oemar Slamet, Oemar Djoy, Selo Ali, dan RP Soedarsono. Mereka inilah tokoh-tokoh yang berperan dalam pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), angkatan bersenjata pertama kali yang dibentuk setelah Indonesia merdeka. Karena kenyataan di Yogyakarta masih bercokol tentara Jepang  dan kedudukannya masih sangat kuat meskipun Indonesia sudah merdeka.
Akibatnya terjadilah pertempuran sengit di Yogyakarta yang bertujuan melawan pemerintahan pendudukan Jepang. Peristiwa itu dikenal dengan "Pertempuran Kotabaru" yang berlangsung pada tanggal  7 Oktober 1945. Pertempuranan di Kotabaru, yang  notabene salah satu kawasan pusat pemerintahan Jepang, terjadi karena pengaruh penjajah tersebut di Yogyakarta
Perlawanan dimulai dengan perebutan senjata dan perkantoran yang dilakukan oleh kesatuan-kesatuan di Yogyakarta. Para pemuda, BKR dan PETA terus melakukan tukar pendapat untuk melakukan perebutan kekuasaan terhadap Jepang. Beberapa tokoh pemuda PETA misalnya Sudarto, Syaifudin, Marsudi, Umar Slamet, Sunjoyo dan Soeharto.
Selaku Komandan Penyerbuan dipimpin oleh Umar Slamet, dimana sebelumnya Umar Slamet merupakan pimpinan TKR.
Beberapa kantor dan jawatan telah berhasil dikuasai oleh pemuda dan rakyat Yogyakarta. Beberapa pabrik dan perusahaan yang berhasil direbut, misalnya Jawatan Kehutanan, Pabrik Gula Tanjungtirtos, Medari, Rewulu, Gondangliporo, Sewugalur, dan pabrik Salakan. Pada tanggal 27 September 1945, Komite Nasional Indonesia Daerah Jogyakarta mengumumkan bahwa seluruh kekuasaan pemerintah telah berada di tangan Republik Indonesia.
Berkaitan dengan itu, maka pimpinan dan kantor-kantor penting harus berada di tangan orang Indonesia. termasuk kepala daerah Yogyakarta yang dijabat oleh Jepang yang disebut Cokan harus meninggalkan kantornya di Jalan Malioboro. Termasuk juga para petingi Jepang masih berada di Yogyakarta dan kegiatan pertahanan di markas Tentara Inti Jepang (Kidobutai). Markas ini di dalamnya terdapat gudang senjata dan terletak di sebelah timur Stadion Kridosono, yang kini digunakan sebagai Asrama Komando Resort Militer (Korem) 072 Pamungkas.
Sebelum menyerbu kawasan Kotabaru, kelompok-kelompok pemuda dari Kampung Pathuk, Jagalan, Jetis Utara, dan Gowongan mengadakan pertemuan pada tanggal  5 Oktober 1945. Mereka sepakat menyiapkan sejumlah rencana untuk menguasai markas Jepang.
Pertama, para pemuda menunggu berita mengenai hasil perundingan dengan Jepang.
Kedua, melucuti senjata Jepang dengan cara damai
Ketiga, menyerbu Kidobutai kalau perundingan gagal.
Untuk penyerbuan, mereka berbagi tugas, mulai dari rencana penyerbuan, pengadaan persenjataan, persiapan pemuda yang akan melakukan serangan, hingga pimpinan penyerbuan dipegang masing-masing oleh satu orang. Setelah rencana dimatangkan, para pemuda segera menjalankan tugasnya hari itu juga. Untuk mencegah bantuan kepada Jepang yang datang dari luar, Sambungan kawat telepon rumah para pembesar dan markas Jepang diputus, perjalanan Kereta Api diawasi dan bila perlu dihentikan di perbatasan kota. Aliran listrik ke daerah Kotabaru pun dipadamkan. Melalui jaringan Pathuk yang ada di Kantor Telepon (Sayogya) dan PLN, kami menyadap dan melakukan sabotase.
Pada waktu itu, kelompok Pathuk memutus jaringan telepon dan aliran listrik (lewat gardu di sebelah timur Hotel Garuda) ke Kotabaru. Dari Sayogya juga, kelompok Pathuk mendapat informasi bahwa di salah satu menara Kantor Pos Besar terdapat 28 senjata beserta pelurunya. Dengan bantuan teman-teman yang ada di Kantor Pos yang membuatkan duplikat kunci serta bantuan para sopir, kelompok Pathuk berhasil mengambil senjata tersebut.
Akhirnya,tanggal  5 Oktober 1945, gedung Cokan Kantai berhasil direbut dan kemudian dijadikan sebagai Kantor Komite Nasional Indonesia Daerah, Gedung Cokan Kantai kemudian dikenal dengan Gedung Nasional atau Gedung Agung.
Satu hari setelah perebutan Gedung Cokan Kantai, para pejuang Yogyakarta ingin melakukan perebutan senjata dan markas Osha Butai di Kotabaru. Untuk itu pada tanggal 6 Oktober 1945 diadakan perundingan antara pihak Indonesia dengan Jepang. Perundingan itu diadakan didalam markas Osha Butai di Kotabaru. Tampak hadir dari Indonesia antara lain Mohammad Saleh (KNI), didampingi Oemar Djoy, Soendjojo, R.P. Sudarsono dan Bardosono atas nama BKR. Dari pihak Jepang diwakili antara lain oleh Butaico Mayor Otsuka, Kenpetai Sasaki, Kapten Ito (Kiambuco). Sementara itu, sejak sore hari banyak masa rakyat dan pemuda yang hadir di sekitar markas Kotabaru.
Dalam perundingan itu, utusan Indonesia mendesak agar Jepang secara sukarela menyerahkan senjata dan kekuasaannya. Otsuka dan kawan-kawan tetap bertahan. Otsuka kemudian menyatakan bahwa untuk menyerahkan senjata harus menunggu perintah dari Jenderal Nakamura di Magelang. Untuk itu Jepang mengusulkan agar perundingan dilanjutkan esok hari sekitar pukul 10.00 WIB. Perundingan itu menemui jalan buntu. Dan dentuman granat kemudian terdengar pada pukul 20.00 WIB, memberi tanda bahwa perundingan akhirnya gagal
Rakyat dan para pemuda terus mengepung markas Osha Butai di Kotabaru. Bahkan di kampung-kampung, malam itu dilakukan persiapan pengerahan massa pemuda dengan suara siap-siap secara estafet. Dalam waktu singkat telah berkumpul banyak pemuda dan terus bergerak menuju Kotabaru. Rakyat dan para pemuda terdiri dari berbagai kesatuan, antara lain TKR, Polisi Istimewa, dan BPU (Barisan Penjagaan Umum) sudah bertekad untuk menyerbu markas Jepang di Kotabaru.
Rakyat dan Pemuda dengan senjata seperti parang dan bambu runcing sudah siap, tinggal menunggu komando. Selain itu, ada kekuatan inti yang menggunakan senjata api, yaitu sebagai berikut :
 a. Pasukan Polisi istimewa yang dipimpin oleh Oni Satroatmojo
 b. Pasukan TKR dibawah komando Soeharto.
Sebagai bagian dari strategi penyerbuan para pemuda telah memutuskan sambungan telepon, kemudian sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, maka sekitar pukul 03.00 WIB tanggal 7 Oktober 1945, terdengar lagi dentuman granat, menandakan aliran listrik pagar berduri yang mengelilingi markas Jepang sudah dipadamkan. Para pemuda segera menyerbu markas itu dan dimulailah pertempuran di Kotabaru. Dengan demikian, terjadilah pertempuran antara rakyat, pemuda dan kesatuan di Yogyakarta melawan tentara Jepang.
Mendengar bahwa rakyat melancarkan serangan hebat di Kotabaru, maka Butaico Pingit segera menghubungi TKR dan menyatakan menyerah, asal anak buahnya tidak disiksa. Hal ini diterima baik oleh TKR. Kemudian TKR minta agar Butaico Pingit dapat mempengaruhi Butaico Kotabaru agar menyerah. Ternyata Butaico Kotabaru menolak untuk menyerah. Skibat serangan para pejuang Indonesia semakin ditingkatkan. Jepang mulai kewalahan kemudian mengadakan kontak kepada pihak para pejuang Indonesia untuk berdamai. Para pejuang Indonesia boleh memasuki markas. Setelah pintu itu dibuka, maka para pemuda pejuang memasuki pintu, ternyata di tempat itu telah disambut tembakan gencar senapan mesin yang sudah disiapkan Jepang dengan demikian banyak pejuang kita gugur.
Dalam 'Penyerbuan Kotabaru' tersebut, sebanyak 21 pejuang Jogja wafat, dan sekitar 32 orang mengalami luka-luka. Mereka yang meninggal adalah 

    1.  Sareh
    2.  Sadjiyono
    3.  Sabirin
    4.  Soenaryo
    5.  Soeroto
    6.  Soepadi
    7.  Soehodo
    8.  Soehartono
    9.  Trimo
    10. Mohammad Wardani
    11. Atmosukarto
    12. Ahmad Djazuli
    13. Achmad Zakir
    14. Abu bakar Ali
    15. Djoemadi
    16. Djuhar Nurhadi
    17. Faridan M Noto
    18. Hadi Darsono
    19. I Dewa Nyoman Oka
    20. Oemoem Kalipan
    21. Bagong Ngadikan
Melihat pemandangan itu para pejuang kita mengamuk. Beribu-ribu massa menyerbu markas. Akhirnya pihak Jepang benar-benar terdesak, dalam pertempuran ini tentara Jepang tewas sebanyak 27 orang. dan berkibarlah bendera Merah Putih. Pasukan Jepang satu per satu mulai menyerah. Senjata demi senjata beralih ke tangan pejuang Indonesia. Gudang senjata juga disebut oleh para pemuda, sehingga banyak mendapat senjata. Pada saat itu beberapa pemuda telah berhasil memasuki markas Kotabaru melalui selokan saluran air (riol) dan langsung berhadapan dengan Otsuka. Ternyata Otsuka mau menyerah, asalkan dihadapkan Yogya Koo (Kepala Daerah) Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Akhirnya pada tanggal 7 Oktober 1945 sekitar pukul 10.00 markas Jepang di Kotabaru secara resmi menyerah. Kemudian berkibarlah bendera merah putih di markas Kotabaru. Beratus-ratus tentara Jepang ditahan dan senjataranya dirampas. Setelah Markas Kotabaru jatuh, usaha perebutan kekuasaan meluas R.P. Sudarsono kemudian memimpin perlucutan senjata Kaigun di Maguwo. Semua senjata, 15 truk serta beratus-ratus peti granat tangan dapat dirampas dari tangan Jepang. Dengan berakhirnya pertempuran Kotabaru dan dikuasainya Maguwo, maka Yogyakarta berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia.

Untuk menghormati mereka yang gugur maka seluruh rakyat Yogyakarta kemudian mengibarkan bendera merah putih. Dan pada sore harinya ribuan rakyat Yogyakarta berkumpul di depan Gedung KNI di Jalan Malioboro untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ke 21 pahlawan Yogyakarta serta mengantarkan 18  pejuang yang gugur di Kotabaru menuju Taman Bahagia di Semaki. Sedangkan untuk 3 lainnya yaitu Faridan M Noto dimakamkan di Pemakaman Gajah, Glagah, Umbulharjo Yogyakarta, sementara itu, Djerhas dan Mohammad Wardani dimakamkan di belakang Masjid Agung Kauman, Yogyakarta.
Di sini sangat besar jasa para perawat yang memberikan pertolongan kepada para korban. Dan sebagai tambahan keterangan tempat dimana para pahlawan disembahyangkan yaitu di Rumah Sakit Pusat Djokjakarta adalah Rumah Sakit Bethesda sekarang ini (sejak tanggal 28 Juni 1950 menjadi Rumah Sakit Bethesda).
Dan untuk mengenang jasa-jasa para pahlawan yang gugur saat Pertempuran Kotabaru ini maka jalan-jalan di seputar kawasan Kotabaru diberi nama para pahlawan yang gugur. Hal ini dmulai sejak Oktober 1958 dimana dilaksanakan musyawarah pembangunan kotapraja. Diacara ini diusulkan untuk menggunakan nama orang yang gugur dalam penyerbuan menjadi nama jalan.
Selain itu juga dibangun sebuah Monumen Peringatan Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945 yang terletak di Jalan Wardani.


Monumen Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945

Saat ini setiap tahunnya Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945 selalu diperingati. Dan untuk tahun 2014 ini komunitas Djokjakarta 1945 untuk pertama kalinya mendapat undangan dari pihak panitia untuk menghadiri peringatan Pertempuran Kotabaru ini. Dan inilah dokumentasi ketika komunitas Djokjakarta 1945 mengikuti upacara Peringatan Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945 di tahun 2014.

Saat mengikuti Upacara Peringatan Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945 di tahun 2015
Foto bareng bersama Walikoa Yogyakarta Bapak Drs. H. Haryadi Suyuti di depan Monumen Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945

Selain di Kotabaru ternyata peristiwa 7 Oktober 1945 juga ada tetengernya di daerah Purwokinanti pakualaman tepatnya di Jalan Jagalan. Di tetenger ini tercantum nama-nama korban pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945 yang persis sama yang tercantum di monumen yang ada di Kobabaru.

 
Monumen Pertempuran Kotabaru 7 Oktober 1945 yang ada di Jalan Jagalan