Selasa, 09 Februari 2016

Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 tahun 2016

Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 tahun 2016
 

 Kerjabakti membersihkan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 yang ada di Keben Kraton Yogyakarta, pada tanggal 26 Maret 2016 jam 07.00 sampai dengan selesai
 
29 Februari 2016 Tirakatan di Plaza Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 ke 67 tahun di tahun 2016 dari pukul 20.00 sd 21.45 WIB. Acara sempat mundur dikarenakan adanya hujan yang cukup lebat di kota Yogyakarta.

Komunitas Djokjakarta 1945 yang ikut serta dalam acara
Tirakatan di Plaza Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 ke 67 tahun di tahun 2016

Komunitas Djokjakarta 1945 yang ikut serta dalam acara
Upacara Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke 67 tahun di tahun 2016 di Plaza MonumenSerangan Umum 1 Maret 1949 nampak pula seorang mahasiswi Anthropologi Visual dari Leiden University Belanda yang bernama Lise Zurne


Pembukaan Pameran "Yogyakarta Benteng Proklamasi" yang akan 
diadakan dari tanggal 1 - 6 Maret 2016



Anggota komunitas Djokjakarta 1945 saat penghadiri acara pembukaan Pameran "Yogyakarta Benteng Proklamasi" yang diadakan pada tanggal 1 - 6 Maret 2016"  

Setelah pembukaan Pameran "Yogyakarta Benteng Proklamasi" anggota komunitas Djokjakarta 1945 diwawancarai oleh para mahasiswa program Summer School yang terdiri dari mahasiswa dari Indonesia (Jawa Barat), Filipina, Malaysia dan Jerman.

Talk Show yang diadakan dalam rangka Pameran memperingati Serangan Umum 1 Maret 1949 di tahun 2016 yang diadakan oleh pihak Museum Benteng Vredeburg

 Badge yang akan dibagikan saat acara teatrikal Serangan Umum 1 maret 1949 di tahun 2016

 Stiker yang akan dibagikan saat acara teatrikal Serangan Umum 1 maret 1949 di tahun 2016

Pengarahan bagi peserta teatrikal memperingati Serangan Umum 1 Maret 1949 di tahun 2016

Foto bersama para pemeran pejuang sebelum acara teatrikal di mulai 
di dalam Museum Benteng Vredeburg

Foto bersama para pemeran KL/KNIL Belanda sebelum acara teatrikal di mulai 
di dalam Museum Benteng Vredeburg

Para fotografer yang meliput teatrikal memperingati 
Serangan Umum 1 Maret 1949 di tahun 2016

Foto bersama para pemeran pejuang sebelum acara teatrikal di mulai 
di depan Museum Benteng Vredeburg

Foto bersama para pemeran KL/KNIL Belanda sebelum acara teatrikal di mulai 
di depan tank M3A1 Stuart

Para pejuang Republik Indonesia berjaga-jaga di kota Yogyakarta

Adegan pasukan KL/KNIL bersiap-siap melakukan penyerbuan 
ke posisi pejuang Republik Indonesia


Serbuan pasukan KL/KNIL ke posisi pejuang Republik Indonesia

Pasukan KL/KNIL Belanda didukung dengan kekuatan tank M3A1 Stuart

 
 
Para pejuang mempertahankan Djokjakarta dari serbuan tentara KL/KNIL Belanda

 
Pertemuan antara Kolonel Bambang Sugeng selaku Komandan Divisi III dengan Letkol Soeharto selaku Komanan Brigade X Mataram dalam merancang Serangan Umum terhadap posisi Belanda di kota Yogyakarta

Para pejuang melakukan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke posisi pertahanan KL/KNIL Belanda yang berada di kota Yogyakarta

 Untuk menghadapi pejuang Republik Indonesia yang melakukan Serangan Umum di tanggal 1 Maret 1949 pihak Belanda menurunkan tank M3A1 Stuart

Tembakan-tembakan meriam yang ditembakan dari kendaraan tempur 
tank M3A1 Stuart ke arah kedudukan pejuang Republik Indonesia 
tapi tidak menyurutkan semangat tempur para pejuang

Akibatnya beberapa pejuang Republik Indonesia ada yang terkena tembakan dari pihak Belanda

Para pejuang dengan gagah beraninya menghadapi 
tank M3A1 Stuartnya pasukan KL/KNIL Belanda

Berkat gigihnya perlawanan para pejuang Republik berhasil menguasai 
sebuah tank M3A1 Stuartnya pasukan KL/KNIL Belanda

Dalam beberapa kesempatan pihak pejuang mampu mendesak mundur pasukan KL/KNIL Belanda dan menguasai pos pertahanan pihak KL/KNIL Belanda

Adanya perlawanan yang terus menerus dari para pejuang Republik Indonesia ke posisi pasukan KL/KNIL Belanda hingga akhirnya pasukan KL/KNIL Belanda ditarik mundur keluar kota Yogyakarta

Lalu setelah pasukan KL/KNIL Belanda ditarik mundur keluar Yogyakarta,
lalu masuklah para pejuang Republik Indonesia ke kota Yogyakarta dalam
suatu peristiwa yang kita kenal dengan sebutan "Djokja Kembali"

Selesai acara teatrikal pemain teatrikal memberikan 
penghormatan kepada para penonton acara teatrikal

 Foto bareng antara pemain teatrikal Serangan Umum 1 Maret 1949
dengan para pejabat terkait di depan Museum Benteng Vredeburg

Antri untuk pembagian nuk dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta

Berkumpul sesaat para peserta teatrikal memperingati Serangan Umum 1 Maret 1949 di tahun 2016 akan berpamitan untuk pulang

Jumat, 05 Februari 2016

Perjuangan Eyang Oesodo Selama Class ke II

Perjuangan Eyang Oesodo Selama Class ke II

Nama beliau adalah bapak Eyang Oesodo dan saat Agresi Militer Belanda ke II dimasukkan artileri dan diberi senjata 2 cm. Dengan senjata serta peluru yang terbatas dan dibantu 15 orang anak buahnya Eyang Oesodo menyerbu markas pos terdepan Belanda yang berada di Bantul ( Sekarang: tangsi polisi Bantul ). Mengingat terbatasnya persenjataan dan kekuatiran akan jatuhnya banyak korban warga sipil Eyang Eyang Sodo dan teman-temannya mengatur strategi dengan melakukan penyerangan di malam hari. Strategi ini ternyata cukup ampuh. Banyak prajurit Belanda berguguran. Penyerangan Eyang Sodo dan kawan-kawannya diperluas sampai ke markas besar dan pusat kekuatan yang berada di pabrik Padokan Madukismo. Markas ini biasa memasok pasukan ke pos - pos. 

Pejuang dengan senapan kaliber 20 mm dari jenis 
Panzerbuchse Solothurn S18-1000 cal 20 x 138 mm

Bersenjatakan 20 mm dan 12,7 mm, Eyang Oesodo dan kawan-kawannya menggempur markas. Hasilnya luar biasa. Menurut laporan dr. Piculli, Kepala Rumah Sakit Bethesda, sebanyak 70 jenazah prajurit Belanda yang dimasukan ke kamar jenasah akibat gempuran Eyang Sodo dan kawan-kawannya. Bukan hanya itu, penghadangan konvoi Belanda dibawa pimpinan Kolonel Van Langen menuju Pos terdepan Bantul juga dilakukan Eyang Sodo dan kawan-kawannya. Sekitar tujuh-puluhan serdadu Belanda beserta kendaraan mengalami nasib naas. Hancur diberondong peluru Eyang Sodo dan kawan-kawannya. Setelah melakukan penghadangan Eyang Sodo memerintahkan pasukannya untuk kembali ke tempatnya. Sedangkan Eyang Sodo tetap berada di tempat itu, ditengah hamparan sawah sambil memperhatikan bantuan serdadu Belanda yang mengangkut jenazah dan menarik kendaraan yang rusak. Setelah menyaksikan segala yang terjadi di malam itu dan situasipun dianggap sudah aman , Eyang Sodo menyeberangi jalan besar lalu menyeberangi lagi kali Bedog yang waktu itu dalamnya air sebatas dada orang dewasa. Tak disangka di tepi barat sungai Bedog tersebut berdiri Pak Harto (Soeharto Mantan Presiden RI) berpakaian seperti rakyat biasa, meneteng pancing di tangan, bersarung dan bertopi caping. Pak Harto menanyakan apa sedang terjadi dan Eyang Sodo menceritakan kejadian yang baru saja mereka lakukan yakni mencegat dan menghancurkan konvoi Belanda yang akan dikirim ke Pos Bantul. Selesai menceritakan Eyang Sodo lalu diajak Pak Harto ke Markasnya yang berada didaerah Kasihan, sebelah barat pabrik gula Madukismo. Sesampainya disana Eyang Sodo diajak makan bersama dengan Mantan orang nomor satu di republik ini. Eyang Sodo mengaku baru pada kesempatan itulah dia merasakan makananyang begitu enak. Walaupun cuma nasi putih dicampur jangan besengak, berlauk tempe dan telur namun ruasanya nuikmat sekali, ujar Eyang Sodo penuh ekspresi. Pasukan yang dimotori Eyang Akhirnya memasuki Kota Yogyakarta.

Rabu, 06 Januari 2016

Pelaksanaan Djokja Kembali 29 Juni 1949

Pelaksanaan Djokja Kembali 29 Juni 1949

Kontak antara pimpinan RI yang sedang melaksanakan perang Gerilya ditambah dengan kontak dengan Pimpinan RI yang ditawan Belanda di Pangkalpinang. Dan menghasilkan pengesahan mandat yang telah diberikan Presiden Soekarno kepada Sri Sultan Hamengkoe Buwono IX, kemudian membentuk Staf Persiapan Pemerintahan Ibu Kota dan sebagai Kepala Staf ditetapkan Kolonel Djatikoesoemo. Demi mempelancar pengembalian Pemerintahan RI di Yogyakarta maka Komandan Wehrkreise III diperbantukan Letnan Marsoedi dan Letnan Moch. Dimjati ( sesuai dengan surat kepada J.M. Menteri Negara Sultan Hamengkoe Buwono IX No.III/U/WK.III/49 tanggal 12 Mei 1949). Sejalan dengan perintah harian Panglima Tentara dan Teritorium Jawa No124/X/12.MOB/PH/49 tanggal 21 Mei untuk mengambil bagian seperlunya dan semestinya dalam memperlancar tugas yang diemban Staf Persiapan Pemerintahan Ibukota.
Dalam upaya kembalinya Pemerintahan RI di Yogyakarta sempat menimbulkan kesalahpahaman antara Sri Sultan Hamengkoe Boewono IX dengan Komandan WK III menolak untuk menandatangani berita acara serah terima kota Yogyakarta dari tentara Belanda kepada TNI. Untuk menjelaskan alasan tersebut maka Komandan WK III menghadap Sri Sultan Hamengkoe Buwono IX supaya masalah tersebut tidak menjadi rumit dan Komandan WK III tidak dituduh sebagai penghalang terwujudnya pengembalian Pemerintahan RI ke kota Yogyakarta.
Maka pada tanggal 17 Mei 1949 Komandan WK III menghadap dan diterima Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kraton, dalam pembicaraan tersebut Komandan WK III menjelaskan permasalahan dan posisi WK III dalam menghadapi perundingan dengan Belanda.
Berdasarkan wewenang yang dimilikinya, Komandan Wehrkreise III mengajukan syarat-syarat pelaksanaan ceasefire dan pengembalian Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai berikut:
1. Dalam waktu yang bersamaan Tentara Kerajaan Belanda dan Tentara Nasional Indonesia mengadakan Perintah ”Local Cease fire.
2. Ini berarti Tentara Kerajaan Belanda dan Tentara Nasional Indonesia juga menghentikan operasi militer maupun operasi gerilya, termasuk menghilangkan ”Hinder Lagen”
3. Pasukan-pasukan Tentara Kerajaan Belanda dikonsinyasi untuk yang ada diluar kota dibolehkan patroli dengan jari-jari(straal) 1 (satu) kilometer untuk menjaganya. Dan untuk menjaga dalam kota soal keamanan dijalankan oleh Algemence Polisi Belanda dan Militer Belanda, pasukan Tentara Nasional tidak di bolehkan mendekati Concentraties Tentara Kerajaan Belanda sampai jarak 2(dua) kilometer.
4. Pemindahan pasukan Tentara Kerajaan Belanda dilakukan selama 2 X 24 jam setelah pengumuman berlakunya ceasefire diumumkan dengan menjalankan pemindahan yang ada diluar kota terlebih dahulu, kemudian yang ada di dalam kota. Jalan-jalan yang digunakan tidak akan mendapat gangguan dari Tentara Nasional Indonesia.
5. Selesainya waktu pemindahan Tentara Kerajaan Belanda dari daerah Yogyakarta ke daerah Kedu – Surakarta maka Tentara Nasional Indonesia yang mempunyai tugas kepolisian akan menggantikan keamanan dalam kota Yogyakarta dari kepolisian Belanda.
6. Setelah penyerahan keamanan kota Yogyakarta dilakukan, maka segera” Kepolisian Belanda dengan lain Staf Militer maupun Sipil” berangkat ke Luar daerah Yogyakarta dengan diantar oleh UNCI.
7. Jalan-jalan yang digunakan pemindahan pasukan Belanda ialah:
Bantar - Yogyakarta
Padokan - Yogyakarta
Bantul - Yogyakarta
Plered - Pasargede - Yogyakarta
Wonosari - Piyungan – Patuk – Prambanan – Maguwo - Yogyakarta
Kaliurang – Kledokan – Yogyakarta
Cebongan – Medari – Tempel – Magelang
Yogyakarta – Sleman – Magelang
8. Setelah Selesai meninggalkan daerah Yogyakarta, maka Tentara Kerajaan Belanda tidak diperbolehkan melalui perbatasan daerah Yogyakarta.
Adanya akibat yang didapat dari kedua belah pihak dan yang paling banyak menelan korban adalah pihak Belanda sendiri baik dari segi material dan jiwa serta mengalami kerugian yang cukup besar, sehingga dari pihak Belanda dan TNI mengadakan pelaksanaan ceasefire dimana kedua belah pihak harus menghentikan gencatan senjata dan adanya penarikan pasukan Belanda dari willayah Yogyakarta dan sekitarnya, serta pasukan TNI tidak diperbolehkan melakukan penyerangan terhadap pasukan Belanda yang sedang melakukan pemindahan pasukan selama 2X24 jam. Dengan demikian keamanan wilayah Yogyakarta dikendalikan oleh Pasukan TNI yang berada di wiilayah Yogyakarta, dan bersih dari pasukan Belanda.

 Sri Sultan hamengku Buwono ke IX selaku Menteri Negara dan Koordinator Keamanan

Pelaksanaan Djokja Kembali pada tanggal 29 Juni 1949 pelaksanaannya di bawah koordinasi Sri Sultan hamengku Buwono ke IX selaku Menteri Negara dan Koordinator Keamanan.
Pelaksanaan masukna TNI ke kota Yogyakarta dilaksanakan dalam 4 babak yaitu :
Pada babak pertama TNI bergerak kurang lebih pada jam 09.00 setelah team peninjau memberi tanda kepada TNI untuk bergerak masuk kota, gerakan pasukan memasuki kota berjalan dengan teratur.
Pada babak kedua TNI maju dengan teratur. Komandan dipindahkan ke Kepatihan.
Pada babak ketiga masuk pula kesatuan TNI di bawah pimpinan Kapten Widodo. Gerak dilakukan dengan teratur menempati posisi sebelah utara rel kereta api dan sebelah barat kali Code.
Dalam babak ke empat di bawah Mayor Sardjono bergerak ke utara sampai batas kota selanjutnya bermarkas di gedung HBS di daerah Jetis. Sedangkan kesatuan dari Mobiele Brigade Polisi masuk dari sebelah barat dan terus menuju asrama Pathuk dan Gayam.
Jumlah pasukan yang memasuki kota Yogyakarta sebanyak 2900 orang dengan perincian 1800 orang dari TNI dan 1100 orang dari Mobiele Brigade Polisi.
Dan sebagian besar dari pasukan-pasukan kita masih tetap diperintahkan untuk melakukan perjuangan di desa-desa dan di gunung-gunung untuk menjaga segala kemungkinanyang tidak diharapkan.
Sumber :
1977, Sejarah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Jakarta, hal 353.

Selasa, 10 November 2015

Peranan Tentara Pelajar di DIY pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949


Peranan Tentara Pelajar di DIY pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949


Pada masa-masa akhir kekuasaan Jepang di Indonesia, Jepang pernah mendorong agar masyarakat memperkuat benteng pertahanan rakyat. Pada kesempatan itulah organisasi boleh berdiri. Tentunya dalam rangka bisa membantu Jepang kalau diserang tentara Sekutu.
Di saat inilah di Yogyakarta berdiri organisasi GBPJ (Gerakan Benteng Perjuangan Jawa) yang menggerakkan masyarakat untuk memperkuat benteng pertahanan rakyat. Selanjutnya setelah berdiri juga Gabungan Sekolah Menengah Mataram atau disingkat GASEMMA juga bisa berdiri dengan mulus. Walaupun pada awalnya hanya merupakan organisasi yang bergiat di bidang olah raga. Kegiatan GASEMMA ini malah diarahkan oleh Jepang untuk keperluan apa yang disebut KINROHOSI atau kerja bakti untuk kepentingan pemerintahan Jepang.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan tersebut, tentunya peranan dan tugas para pelajar yang tergabung dalam GASEMMA tersebut semakin berat. Sehubungan dengan itu mereka kemudian mengadakan Kongres Pemuda Pelajar pada tanggal 25 sampai 27 September 1945.
Berikutnya beberapa organisasi pelajar sekolah menengah yang tergabung dalam GASEMMA (Gabungan Sekolah Menengah Mataram) ini menjelma menjadi IPI (Ikatan Pelajar Indonesia).
Berdasarkan perintah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII dalam Maklumat No. 5 DIY tgl. 26-10-1945 untuk membantu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) karena situasi perjuangan semakin meningkat IPI (Ikatan Pelajar Indonesia) juga meningkatkan peranannya dengan membentuk satuan khusus yang disebut IPI Pertahanan. Selain membentuk IPI Pertahanan juga ada yang ikut bergabung ke Lasykar Rakyat Kauman, kemudian ikut ke front Ambarawa bersama TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang bersenjata lengkap.
Pembentukan Lasykar Rakyat dan IPI Pertahanan inikan tujuannya untuk memperkuat pertahanan, karena NICA Belanda yang datang membonceng tentara Sekutu secara terang-terangan berusaha berkuasa kembali di Indonesia.
Pembentukan IPI Pertahanan mendapat restu dari Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat untuk dijadikan pasukan khusus pelajar, yang kemudian disebut TP (Tentara Pelajar).
Akhirnya pada tanggal 17 Juli 1946 oleh DR. Mustopo dari Markas Pertahanan, bertempat di Lapangan Pingit Yogyakarta diresmikanlah pembentukan Tentara Pelajar (TP). S elanjutnya ada beberapa Batalyon Tentara Pelajar di tanah Jawa. Tapi untuk daerah Yogyakarta menggunakan kode TP Batalyon 300. Batalyon 300 itu, untuk Yogyakarta ada 3 kompi, yakni: Kompi 310, 320, dan 350. Sedangkan untuk Kompi 330, 340 dan 360 masing-masing untuk daerah Kedu Selatan, Banyumas dan Kedu Utara.
Satu hal yang perlu dicatat, bahwa walaupun organisasi Tentara Pelajar ini diresmikan dengan sebutan Tentara Pelajar dan organisasinya disusun seperti organisasi ketentaraan atau bersifat kemiliteran, namun status kelaskaran tetap dipertahankan sesuai dengan Sistem Pertahanan Kelaskaran Rakyat sehingga dalam pelaksanaan tugas-tugasnya tetap berdasarkan kekeluargaan yang kental. Karena itu dalam organisasi Tentara Pelajar ini tidak dikenal sistem kepangkatan. Yang menarik lagi dari kesatuan Tentara Pelajar adalah komandannya dipilih oleh para anggotanya sendiri.
Tentara Pelajar dalam perjuangannya melakukan perlawanan gerilya yang menyulitkan pihak musuh, mereka dituntut untuk memiliki kekompakan dan kedisiplinan.terbentuknya Tentara Pelajar adalah berdasarkan kesadaran para pelajar dalam memperjuangkan tanah air mereka.
Tentara Pelajar tersebut tugasnya mulai dari membantu penyelenggaraan dapur umum, penyelidikan lokasi obyek yang akan diserang, sebagai kurir pembawa dokumen rahasia, selaku anggota Palang Merah, dan bahkan terlibat dalam pertempuran-pertempuran atau penghadangan-penghadangan terhadap Militer Belanda. Salah satu anggota Tentara pelajar yang bernama Ibnoe Sawabi yang merupakan pernah menjadi anggota Counter Inteligence (Patriot Indonesia), juga di staf Keamanan Tentara Pelajar Batalyon 300 pernah bergabung dengan TNI Batalyon I yang Komandan Seksinya bernama Sugiarto. Beliau juga diberi senjata api, dan pada Clash II pernah ikut bertempur di daerah Bantul. Ada tugas khusus yang diemban Ibnoe Sawabi sebagai anggota TP ketika bergabung dengan satuan TNI di Batalyon I Seksi Sugiarto. Kalau mereka akan melakukan penyerangan atau pengacauan ke kota, maka Ibnoe Sawabi-lah yang ditugaskan satuan tersebut untuk lebih dahulu menyelidiki keadaan lokasi yang akan diserang.
Sardjiman (terakhir tinggal di Nogosari Lor) banyak terlibat dalam pertempuran.
Lalu Suwarno (nama lengkap beliau Drs. Suwarno terakhir sebagai pensiunan Kepala SPG Negeri) yang merupakan anggota TP yang bertugas sebagai Palang Merah. Sewaktu menjadi anggota Tentara Pelajar Suwarno ini pernah  mendapat kesempatan untuk ikut kursus PPPK (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) yang diselenggarakan Pengurus TP bekerja sama dengan Rumah Sakit Bathesda, selama satu bulan. Dengan modal pengetahuan itu, beliau menjadi anggota TP, dan sering mendapat tugas sebagai anggota Palang Merah, mengikuti aksi-aksi penyerangan dan penghadangan terhadap militer Belanda.
Dalam rangka Serangan Umum 1 Maret 1949, Tentara Pelajar Detasemen 3 Brigade 17 diperintahkan untuk menjaga jangan sampai tentara Belanda lari keluar Yogyakarta. Anggota kesatuan yang dipimpin oleh Martono, pelajar Sekolah Guru Tinggi, hanya berjumlah tidak lebih dari dua ratus orang.
Namun, anak buah Martono juga sering masuk kota. Tempat yang dilalui mereka bila masuk kota adalah Blunyah, Jetis, dan Pakuningratan, kemudian menuju arah selatan. Mereka berpencar di sekeliling gedung bekas HBS (Hogere Burger School), DHS (Djogjasche Handel School), dan Kweekschool, yang dijadikan markas Belanda. Waktu bunyi sirine tanda jam malam berakhir, mereka serentak menembaki kubu pertahanan Belanda itu.
Selain itu pula ketika anak buah Martono memasang ranjau di dekat jembatan Tempel, kemudian diledakkan ketika iring-iringan serdadu Belanda lewat.
“Serdadu-serdadu Belanda itu bingung dan ketakutan,” kata Soebagijo dalam Pengalaman Masa Revolusi, “terdengar jerit mereka memanggil-manggil ibunya, ‘mammiee…mammiee…!”
Ada lagi anggota Tentara Pelajar yang bernama P.J. Soewardjo (P.J. Soewardjo, B. A.) yang diperbantukan pada staf Penerangan, ikut menangani berita-berita perjuangan serta penyebarluasannya.  Masih ada lagi Ismantoro yang bertugas menempelkan pamflet-pamflet yang berisi berita-berita perjuangan. Ada lagi anggota-anggota Tentara Pelajar yang ada di daerah  Srandakan (Bantul) yang bertugas menyebarkan pamflet-pamflet tentang penyerangan dan penghadangan terhadap Belanda oleh pejuang-pejuang kita.
Jadi pada intinya selain terlibat langsung dalam aksi penyerangan dan penghadangan terhadap musuh, juga terlibat dalam berbagai aktifitas lainnya yang menunjang perjuangan waktu itu.
Karena itulah, alangkah arifnya manakala kita hormati perjuangan dan pengorbanan mereka itu dengan berusaha melanjutkan cita-cita para pejuang bangsa, mengisi kemerdekaan, dan membenahi segala persoalan yang masih memerlukan uluran tangan dan perkobanan bangsa Indonesia pada umumnya.